Pelepasan Terjun Dengan Cara Joe Biden Memperlakukan Konflik Israel, Pejabat USAID Mengundurkan Diri untuk Mendukung Palestina

by -48 Views

Jumat, 31 Mei 2024 – 10:54 WIB

Washington – Pejabat pemerintahan Presiden Joe Biden lainnya mengundurkan diri sebagai aksi protes atas cara Washington menangani perang Israel yang sedang berlangsung di Gaza.

Baca Juga :

Lagi, 12 Warga Sipil Palestina di Rafah Tewas Kena Serangan Udara Israel

Alexander Smith, kontraktor lembaga bantuan internasional AS, USAID, mengatakan bahwa dia ditawari ultimatum setelah menyiapkan makalah tentang kematian anak dan ibu di Palestina. Lebih tepatnya, dia mengundurkan diri, atau diberhentikan.

“Presentasi makalahnya di sebuah konferensi akhirnya dibatalkan oleh pimpinan senior USAID,” kata Smith, mantan penasihat senior bidang gender, kesehatan ibu, kesehatan anak dan gizi.

Baca Juga :

Bersalah dalam 34 Dakwaan, Donald Trump Dijatuhi Hukuman 4 Tahun Penjara

VIVA Militer: Penduduk Gaza, Palestina, korban serangan militer Israel

VIVA Militer: Penduduk Gaza, Palestina, korban serangan militer Israel

Dia mengundurkan diri pada 27 Mei 2024 lalu, dan mengakhiri masa jabatannya empat tahun di badan tersebut.

Baca Juga :

MUI Dorong Pemerintah RI Prakarsai Bantuan Militer untuk Palestina Setop Kebiadaban Israel

Menurut surat kabar Inggris, Guardian, Smith mengaku geram akibat perlakuan tidak setara USAID terhadap berbagai negara dan krisis, dan secara khusus menyebutkan perlakuan badan tersebut terhadap warga Palestina.

“Saya tidak dapat melakukan pekerjaan saya di lingkungan, di mana orang-orang tertentu tidak dapat diakui sebagai manusia seutuhnya, atau di mana prinsip-prinsip gender dan hak asasi manusia hanya berlaku bagi beberapa orang, dan tidak bagi orang lain. Itu tergantung pada ras mereka,” tulis Smith dalam keterangannya, dikutip dari ANews, Jumat, 31 Mei 2024.

“USAID selalu bangga dengan program kami yang mendukung demokrasi, hak asasi manusia, dan supremasi hukum. Di Ukraina, kami menyerukan ganti rugi hukum ketika ada orang yang menjadi korban, dan menyebutkan nama pelaku kekerasan. Kami dengan berani menyatakan ‘Slava Ukraini’ dalam video promosi yang menarik. Namun ketika berbicara mengenai Palestina, kami menghindari untuk mengatakan apa pun tentang hak mereka untuk bernegara, pelanggaran yang mereka derita saat ini, atau negara-negara mana yang telah melanggar hak-hak dasar mereka atas kebebasan, penentuan nasib sendiri, penghidupan, dan air bersih,” sambung Smith.

Pengunduran diri Smith adalah yang kedua pada minggu ini setelah Stacy Gilbert, pejabat senior di Biro Kependudukan, Pengungsi dan Migrasi Departemen Luar Negeri.

Dia mengatakan, “salah” jika pemerintahan Biden menyimpulkan bahwa Israel tidak menghalangi masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza.

Pengunduran diri tersebut menambah setidaknya delapan orang yang telah meninggalkan pemerintahan federal sebagai tanggapan terhadap cara Presiden AS Joe Biden menangani perang Israel.

VIVA Militer: Joe Biden dan Benjamin Netanyahu

VIVA Militer: Joe Biden dan Benjamin Netanyahu

Josh Paul, mantan direktur urusan kongres dan publik di Biro Urusan Politik-Militer, adalah orang pertama yang mengungkapkan hal tersebut secara terbuka pada akhir Oktober ketika perang masih dalam bulan pertama.

Sejak itu, sebagian besar wilayah Gaza telah dihancurkan dan puluhan ribu warga sipil tak berdosa terbunuh akibat perang Israel.

Penghitungan resmi dari Kementerian Kesehatan yang berbasis di Gaza mencatat lebih dari 36.240 kematian, sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak, dan lebih dari 81.000 orang lainnya terluka.

Halaman Selanjutnya

“USAID selalu bangga dengan program kami yang mendukung demokrasi, hak asasi manusia, dan supremasi hukum. Di Ukraina, kami menyerukan ganti rugi hukum ketika ada orang yang menjadi korban, dan menyebutkan nama pelaku kekerasan. Kami dengan berani menyatakan ‘Slava Ukraini’ dalam video promosi yang menarik. Namun ketika berbicara mengenai Palestina, kami menghindari untuk mengatakan apa pun tentang hak mereka untuk bernegara, pelanggaran yang mereka derita saat ini, atau negara-negara mana yang telah melanggar hak-hak dasar mereka atas kebebasan, penentuan nasib sendiri, penghidupan, dan air bersih,” sambung Smith.

Halaman Selanjutnya