CSIS Konfirmasi Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka Menang Satu Putaran di Quick Count: Demokrasi Masih Pilihan Terbaik

by -52 Views

Jakarta – Hasil Pemilu 2024 versi perhitungan cepat dari beberapa lembaga menunjukkan bahwa pasangan calon nomor urut 2, Prabowo Subianto – Gibran Rakabuming Raka, berhasil memenangkan pemilu. Centre for Strategic and International Studies (CSIS) bahkan memastikan bahwa kemenangan tersebut dapat diraih dalam satu putaran.

Ketua Departemen Politik dan Perubahan Sosial CSIS, Arya Fernandes, menyatakan bahwa kemenangan ini sebenarnya sudah diprediksi berdasarkan tren kenaikan elektabilitas Prabowo-Gibran menjelang Pemilu 2024. Hasil perhitungan cepat yang dirilis oleh beberapa lembaga survei juga menunjukkan keunggulan pasangan ini.

“Hasil perhitungan cepat dari sejumlah lembaga survei mengonfirmasi kemenangan Prabowo Subianto – Gibran Rakabuming Raka dengan perolehan suara sekitar 57-58 persen,” kata Arya dalam keterangannya pada Rabu (21/2).

Tidak hanya berhasil memenangkan Pilpres, Arya juga menjelaskan bahwa perolehan suara Prabowo-Gibran merupakan yang tertinggi yang pernah dicapai oleh calon presiden dan wakil presiden di masa sebelumnya.

“Dengan perolehan tersebut, hampir dapat dipastikan bahwa pemilihan presiden akan berlangsung dalam satu putaran. Rekor ini berhasil melewati pencapaian Presiden Joko Widodo sebelumnya sebesar 55,50 pada Pemilu 2019,” jelas Arya.

Berdasarkan estimasi perolehan suara dari hasil perhitungan cepat yang dilakukan oleh CSIS bersama Cyrus Network (CN), suara untuk Prabowo-Gibran hampir memimpin di seluruh wilayah Indonesia. Dukungan untuk pasangan ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pasangan lainnya. Arya menyatakan bahwa capaian ini telah memenuhi syarat kemenangan dalam Pilpres sesuai dengan Pasal 6 (3) Undang-Undang Dasar 1945.

“Menurut pasal tersebut, pasangan calon presiden dan wakil presiden yang memperoleh suara lebih dari lima puluh persen dari total suara dalam pemilihan umum, dengan minimal dua puluh persen suara di setiap provinsi yang tersebar di lebih dari setengah jumlah provinsi di Indonesia, akan dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden,” paparnya.

Arya juga menjelaskan bahwa kemenangan Prabowo-Gibran dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain adalah dukungan dari pemilih yang juga mendukung partai koalisi Anies-Muhaimin dan Ganjar-Mahfud.

“Pasangan ini berhasil memenangkan suara tidak hanya dari basis pendukung partainya, tetapi juga dari partai koalisi lainnya,” ucap Arya.

Faktor lain yang turut menyumbang kemenangan Prabowo-Gibran adalah persepsi positif masyarakat terhadap kinerja pemerintah dan kondisi ekonomi yang dinilai baik. Arya mengatakan bahwa masyarakat melihat hal ini dari peningkatan alokasi anggaran program bantuan sosial. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh CSIS pada Desember 2023, sebanyak 86,1 persen responden percaya pada Presiden.

“Kemenangan Prabowo-Gibran juga didorong oleh perubahan strategi tim kampanye yang menyasar platform TikTok dan melibatkan influencer dalam tim kampanye nasional. Konten-konten Prabowo yang diunggah di TikTok selalu menjadi viral dan ditonton oleh puluhan juta orang,” tambah Arya.

Meskipun demikian, Arya menyebut bahwa potensi kemenangan Prabowo-Gibran sebenarnya sudah terdeteksi sejak awal, terutama berdasarkan hasil survei sejak November 2023. Ia menekankan bahwa peta elektoral yang dinamis menjelang pemilu membuat tim dari pasangan calon lain harus berpikir strategis, termasuk menyusun narasi bahwa pemilu akan berlangsung lebih dari satu putaran.

“Dengan selisih suara yang tinggi, sangat sulit bagi Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar dan Ganjar Pranowo-Moh. Mahfud MD untuk mengejar suara Prabowo-Gibran yang terus meningkat. Hal yang masih layak diperjuangkan adalah usaha memaksa agar pemilu presiden bisa berlangsung dalam dua putaran,” jelas Arya.

CSIS, lanjut Arya, mencatat bahwa dalam upaya memenangkan hati pemilih, pasangan calon lain juga menjalankan strategi yang berbeda menjelang akhir kampanye.

“Anies Baswedan memilih untuk mengurangi serangannya dalam debat terakhir calon presiden untuk mempengaruhi sikap pemilih. Sementara itu, Ganjar justru semakin agresif dalam menyerang,” ujarnya.

Arya bersama CSIS juga menekankan bahwa Pemilu 2024 merupakan kelanjutan dari proses demokrasi yang dimulai sejak reformasi 1998. Meskipun dengan segala kekurangan dan kelebihannya, demokrasi tetap menjadi pilihan terbaik bagi Indonesia dalam menghadapi tantangan di tingkat nasional maupun internasional ke depan.

“Dalam setiap pemilu, kita telah melihat perubahan kekuasaan dengan cepat. Perubahan politik terjadi dengan cepat, sehingga kita harus cepat beradaptasi. Demokrasi, dengan segala kekurangannya, masih menjadi pilihan terbaik bagi kita selamanya,” katanya.

“Kita membutuhkan seorang pemimpin demokratis untuk memimpin lebih dari 270 juta penduduk di Indonesia, menghadapi tantangan yang semakin kompleks di masa depan. Kita memerlukan kabinet yang kompeten dan berpengalaman,” tambah Arya. (SENOPATI)

Source link