Cara Membedakan Foto dan Video AI dari Konten Asli
Jakarta – Perkembangan kecerdasan buatan (AI) telah membuat foto dan video semakin realistis, sehingga sulit untuk dibedakan dari konten asli. Hal ini menuntut masyarakat untuk lebih teliti dalam memeriksa sumber, konteks, dan jejak digital sebelum mempercayai atau menyebarkannya.
Teknologi AI generatif saat ini mampu menciptakan gambar dan video dengan detail yang sangat mirip dengan kenyataan. Mulai dari wajah manusia, suara, latar belakang, gerakan, hingga kondisi tertentu dapat dibuat atau dimodifikasi menggunakan teknologi ini.
Kemampuan untuk memeriksa keaslian konten menjadi semakin penting, terutama ketika foto atau video digunakan untuk menyebarkan informasi mengenai peristiwa yang sedang terjadi. Namun, dengan kemajuan teknologi AI yang terus berkembang, tanda-tanda kejanggalan pada konten semakin sulit untuk ditemukan.
Salah satu cara awal untuk memeriksa keaslian foto atau video adalah dengan memperhatikan detail yang terlihat tidak wajar. Misalnya, kejanggalan dapat terlihat pada bentuk tangan, tulisan, pantulan, bayangan, ekspresi wajah, atau gerakan bibir. Namun, perlu dicatat bahwa konten yang terlihat sangat realistis tidak selalu berarti benar-benar terjadi.
Langkah berikutnya adalah mencari tahu dari mana foto atau video tersebut berasal. Jika sebuah video mengklaim menampilkan kejadian besar, penting untuk memeriksa apakah peristiwa serupa juga dilaporkan oleh media terpercaya atau dikonfirmasi oleh lembaga resmi. Perhatikan juga siapa yang pertama kali mengunggah konten, kapan diunggah, dan apakah keterangannya sesuai dengan peristiwa yang diklaim.
Untuk foto yang mencurigakan, pencarian gambar terbalik dapat membantu mengetahui apakah gambar tersebut pernah muncul sebelumnya di internet. Namun, tidak ditemukannya gambar yang sama bukan berarti foto tersebut otomatis asli. Konten baru atau konten yang belum banyak tersebar mungkin belum muncul dalam hasil pencarian.
Metadata juga dapat menjadi petunjuk penting ketika memeriksa sebuah foto atau video. Namun, metadata tidak boleh dijadikan satu-satunya bukti karena informasi di dalamnya dapat hilang atau berubah ketika file diproses dan dibagikan melalui platform tertentu. Selain itu, perlu diingat bahwa tidak semua foto dan video sudah memiliki fitur Content Credentials, yang memberikan informasi mengenai proses pembuatan dan perubahan konten secara digital.
Sejumlah perusahaan teknologi menggunakan watermark digital untuk membantu mengenali konten yang dibuat menggunakan AI. Meskipun demikian, tidak adanya watermark juga tidak dapat dijadikan bukti bahwa sebuah konten merupakan hasil kamera atau rekaman asli.
Saat ini, terdapat berbagai alat yang mengklaim mampu menentukan apakah sebuah foto atau video dibuat menggunakan AI. Meskipun demikian, hasil dari alat tersebut sebaiknya tidak dianggap sebagai keputusan mutlak karena teknologi pendeteksi juga memiliki keterbatasan.
Video yang menampilkan tokoh publik perlu diperiksa secara lebih hati-hati, terutama jika berisi pernyataan kontroversial, promosi investasi, permintaan uang, atau ajakan tertentu. Teknologi deepfake juga dapat membuat wajah dan suara seseorang terlihat seolah-olah benar-benar mengucapkan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah dikatakan.
Terakhir, keaslian foto tidak selalu berarti keterangan yang menyertainya benar. Sebuah foto dapat benar-benar diambil menggunakan kamera, tetapi digunakan untuk menggambarkan kejadian yang berbeda. Oleh karena itu, selalu penting untuk memeriksa tanggal, lokasi, dan peristiwa yang berkaitan dengan sebuah foto sebelum mempercayainya.
Dengan perkembangan AI yang semakin cepat, masyarakat perlu memiliki kebiasaan untuk memeriksa informasi sebelum percaya dan membagikannya. Pemeriksaan sumber, konteks, riwayat konten, metadata, watermark, dan teknologi verifikasi dapat digunakan secara bersamaan untuk membedakan foto dan video AI dari konten asli.
Sumber:
– ANTARA. “Cara membedakan foto dan video AI dari konten asli.” Copyright © ANTARA 2026.
Sumber: Lihat sumber berita





