Abu vulkanik Anak Krakatau menghantam Jakarta, bahaya bagi kesehatan
Jakarta — Abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau telah menjangkau sejumlah wilayah, termasuk DKI Jakarta. Paparan abu dalam jumlah tinggi bisa mengganggu saluran pernapasan, mata, dan kulit, terutama pada kelompok rentan.
Gunung Anak Krakatau telah menunjukkan peningkatan aktivitas sejak Jumat, 4 September 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebaran abu vulkanik meliputi Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat hingga Bengkulu.
Di Jakarta, intensitas abu diperkirakan tipis dan bisa berubah mengikuti arah serta kecepatan angin. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, dan mengikuti informasi resmi terkait kondisi tersebut.
Paparan abu vulkanik bisa mengakibatkan gangguan saluran pernapasan, seperti batuk, iritasi tenggorokan, pilek, dan kesulitan bernapas. Kementerian Kesehatan menyebut risiko paparan abu vulkanik dengan intensitas tinggi termasuk Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), iritasi mata, dan gangguan pada kulit.
Beberapa warga Jakarta yang terpapar abu vulkanik melaporkan gejala seperti mata perih, pilek, batuk kering, dan napas tersengal. Orang dengan penyakit pernapasan, termasuk asma, menjadi kelompok yang rentan terhadap dampak abu vulkanik.
Selain itu, partikel abu yang terhirup bisa memperburuk keluhan pada penderita asma dan penyakit paru kronis. Anak-anak dan lansia juga termasuk kelompok yang lebih rentan terhadap paparan abu vulkanik.
Dampak abu vulkanik tidak hanya terjadi pada saluran pernapasan, namun juga bisa mengenai mata dan kulit. Paparan abu dapat menyebabkan mata merah, berair, dan iritasi pada kulit sensitif.
Masyarakat di wilayah terdampak disarankan untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan, menggunakan masker dan kacamata, serta menutup pintu, jendela, dan ventilasi rumah untuk mencegah abu masuk. Abu yang menumpuk di sekitar rumah sebaiknya dibasahi terlebih dahulu sebelum disapu.
Jika mengalami sesak napas berat, nyeri dada, batuk berkepanjangan, atau iritasi mata yang parah setelah terpapar abu vulkanik, segera periksakan ke dokter. Langkah pencegahan, seperti mengurangi paparan abu, menggunakan perlindungan yang tepat, dan mengikuti informasi resmi, sangat penting untuk menjaga kesehatan selama kondisi erupsi Gunung Anak Krakatau berlangsung.
Sumber: Lihat sumber berita





