Kejadian kematian massal ikan di Danau Batur, Bali menyita perhatian masyarakat belakangan ini. Sebanyak 25 ton ikan budidaya tewas akibat letupan belerang yang terjadi di Danau Batur. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyimpulkan bahwa fenomena ini dipicu oleh pencampuran kolom air danau, dimana air dari lapisan dasar naik dan bercampur dengan air permukaan.
Penyebab Kematian Massal Ikan
Saat kejadian, peneliti menemukan kadar oksigen di permukaan danau menurun drastis hingga mendekati 0 mg/L. Bau hidrogen sulfida juga tercium, menunjukkan adanya air dari lapisan dasar yang terangkat ke permukaan dan membawa senyawa beracun bagi ikan.
Lapisan dasar danau secara alami memiliki kandungan oksigen yang lebih rendah disebabkan oleh dekomposisi bahan organik yang berlangsung dalam jangka waktu lama. Senyawa sulfida juga dapat terakumulasi di lapisan ini. Saat air dari lapisan bawah naik ke permukaan, senyawa ini berpotensi meracuni ikan, terutama jika berubah menjadi hidrogen sulfida.
Karakteristik Danau Batur
Danau Batur merupakan danau vulkanik berdekatan dengan Gunung Batur, sehingga kandungan senyawa sulfur di dalamnya relatif lebih tinggi dibanding danau lain. Pada kondisi tertentu, senyawa sulfat di dasar danau dapat berubah menjadi sulfida, yang kemudian naik ke lapisan yang mengandung oksigen dan mengalami proses oksidasi.
Proses pencampuran air di Danau Batur biasanya terjadi pada bulan Juni-Agustus, akhir Desember, dan Februari. Meski merupakan proses alami, dampak dari fenomena ini tidak selalu sama setiap kali terjadi. Faktor seperti kondisi cuaca, karakteristik fisik danau, kualitas air, serta keadaan ekosistem saat itu memengaruhi seberapa besar dampaknya terhadap biota perairan.




