Jakarta, CNN Indonesia — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merespons fenomena batu apung yang menutupi perairan Sarmi dan Biak, Papua. Menurut BMKG, batu apung ini berasal dari letusan gunung api bawah laut di sekitar Papua Nugini.
Latar Belakang Kejadian
Video viral di media sosial menunjukkan pantai di wilayah tersebut dipenuhi oleh batu apung yang terbawa ke daratan. Heri Purnomo dari BMKG Jayapura menjelaskan bahwa batu apung berasal dari letusan gunung bawah laut di Laut Bismarck utara Papua Nugini.
Penjelasan BMKG
Heri Purnomo menjelaskan bahwa batu apung terbawa oleh arus laut menuju wilayah pesisir Sarmi dan Biak akibat pergerakan arus permukaan laut. Meskipun tidak terdapat gunung berapi bawah laut aktif di wilayah Papua, BMKG menegaskan perlunya penelusuran lebih lanjut terkait dampak batu apung ini terhadap masyarakat dan ekosistem pesisir.
BMKG menyebutkan bahwa material batu apung tersebut dapat menyebabkan pendangkalan di pesisir akibat penumpukan sedimen. Meskipun sebagian batu apung akan mengendap di pesisir laut dan sebagian lainnya akan terus bergerak mengikuti arus laut, BMKG menjamin bahwa jika ada dampak terhadap pelayaran, hal tersebut akan ditangani oleh otoritas yang berwenang.
Heri Purnomo juga menekankan bahwa batu apung ini secara alami akan terus bergerak mengikuti arus laut. Namun, jika terdapat ancaman serius terhadap jalur pelayaran, tindakan pembersihan pasti akan dilakukan. Pihak terkait sudah melakukan antisipasi terhadap kemungkinan dampak yang ditimbulkan.
Dengan adanya penjelasan tersebut, BMKG berharap agar masyarakat dapat tenang dan tidak terlalu khawatir terhadap keberadaan batu apung tersebut. Peran serta semua pihak dalam memantau situasi di sekitar perairan Papua juga diharapkan untuk memastikan keamanan dan kelancaran pelayaran.





