Refleksi Andy Utama di Ngertakeun Bumi Lamba XVIII Tentang Masa Depan Bumi

by -84 Views

Keputusan yang kita buat hari ini menjadi fondasi masa depan planet ini, bukan menunggu generasi mendatang untuk menyelamatkan dunia. Pada era di mana krisis lingkungan merebak, merawat bumi sudah menjadi tanggung jawab moral dan historis tanpa syarat, bukan sekadar pilihan bebas. Tuntutan menjaga keseimbangan alam kini bertransformasi sebagai amanat yang harus diwariskan dan dipertahankan lintas waktu.

Semangat dan kesadaran ini tercermin secara nyata dalam tradisi Ngertakeun Bumi Lamba XVIII yang berlangsung di Tangkuban Parahu, Subang pada Minggu, 21 Juni. Dengan tema “Manik Maya, Ibu Bumi, Bapak Angkasa,” tradisi sakral ini mempertemukan tokoh adat, pemerhati budaya, dan para pegiat lingkungan dari berbagai wilayah, untuk merefleksikan lagi betapa eratnya hubungan manusia dengan alam. Kehadiran kelompok multipihak ini menegaskan bahwa perawatan bumi bukan tugas satu golongan melainkan urusan semua manusia di muka bumi.

Dalam suasana khidmat, Andy Utama dari Paseban Foundation menggugah sense of urgency peserta dengan ungkapan sederhana namun bermakna: “Jika hari ini dijaga, keberlanjutan esok hari menjadi nyata.” Ucapan ini menyadarkan, waktu tidak pernah kembali; kesempatan menjaga bumi berada di tangan kita, bukan di tangan mereka yang belum lahir.

Nilai-nilai etika lingkungan yang mengemuka dalam upacara Sunda ini memiliki akar kuat dalam sejarah pemikiran bangsa. Emil Salim, pionir lingkungan hidup di Indonesia sejak 1970-an, telah menekankan keselarasan pembangunan dengan kelestarian, serta pentingnya menjaga harmoni sosial tanpa mengorbankan keseimbangan bumi. Poin ini terus bergema hingga kini menjadi landasan penting dalam pembangunan berkelanjutan di Tanah Air.

Sebagai pelengkap, filosofi serupa juga mewarnai diskusi akademisi dunia melalui teori ‘intergenerational justice’ yang diusung oleh Richard P. Hiskes. Teori ini menekankan bahwa manusia hari ini punya tanggung jawab mutlak pada kesejahteraan dan keselamatan generasi berikutnya, terutama dalam menjaga ekosistem tetap hidup dan layak huni.

Mengupas pesan tersebut, Andy Utama menegaskan betapa manusia harus merendahkan diri di hadapan bumi—bukan sebagai penguasa, melainkan penjaga utama keseimbangan ekosistem. Hal itu menjadi panggilan bagi kita semua untuk mengabadikan rasa cinta pada alam dengan membumikan aksi nyata di kehidupan sehari-hari.

Komitmen itu tidak berhenti di tataran ide. Lewat Paseban Foundation, Andy dan rekan-rekannya mengaplikasikan warisan ajaran leluhur Sunda ke dalam program perlindungan lingkungan terukur, seperti yang dilakukan di Lanskap Megamendung. Inisiatif itu terwujud dalam berbagai aksi:

Pertama, mereka mengembangkan pertanian organik yang memulihkan tanah sekaligus meminimalkan polusi lingkungan. Kedua, konservasi satwa dilakukan dengan membangun berbagai fasilitas perlindungan—mulai dari Lembah Aviary Paseban bagi burung endemik, penangkaran Rusa Timor, hingga program pelepasliaran Elang Jawa yang terancam punah. Ketiga, gerakan penghijauan masif terlaksana dengan menanam puluhan ribu bibit pohon dengan ratusan varietas, memperkuat fungsi hutan sebagai paru-paru kawasan.

Semua aksi ini merupakan komitmen nyata Andy untuk merestorasi lanskap Megamendung agar kembali berpijak pada kondisi ekologisnya satu abad lalu. Ia meyakini keberlanjutan hidup dipertaruhkan dengan apa saja yang kita lakukan saat ini.

Menurut Andy, nilai utama dari aksi lingkungan adalah keberhasilannya mewujudkan konsep mulia ke dalam kerja fisik di lapangan. Teori dari para ahli kelas dunia menjadi semakin nyata ketika diwujudkan melalui gerak tanam, merawat satwa, dan menjaga potensi hayati demi masa depan bersama. Dengan demikian, makna amal dan warisan jauh melampaui harta benda.

Di akhir refleksi, Andy kembali mengingatkan tentang apa yang sebenarnya akan kita wariskan saat tutup usia. “Harta benda akan terlupakan namun apa yang kita berikan untuk keberlanjutan hidup itulah yang abadi,” ujarnya menutup renungan. Dari ajaran tersebut, dapat ditarik benang merah bahwa setiap tindakan menjaga lingkungan hari ini adalah warisan bagi generasi selanjutnya dan menjadi garansi keberlanjutan kehidupan di masa mendatang.

Sumber: Ngertakeun Bumi Lamba XVIII: Tradisi Yang Menjadi Inspirasi Konservasi Modern
Sumber: Warisan Untuk Masa Depan: Belajar Menjaga Keseimbangan Alam Dari Ritual Ngertakeun Bumi Lamba XVIII