Xi Jinping Sambut Vladimir Putin di Beijing setelah Pertemuan dengan Donald Trump

by -107 Views

Hubungan China dan Rusia Kembali Jadi Sorotan

Pasca-kunjungan Donald Trump ke China yang dianggap minim terobosan, hubungan antara China dan Rusia kembali menjadi perhatian. Xi Jinping dan Vladimir Putin saling bertukar “surat ucapan selamat” menjelang kunjungan Putin ke Beijing pekan ini, hanya empat hari setelah pertemuan dengan Trump.

Kemitraan Strategis China-Rusia dalam 30 Tahun Terakhir

Media pemerintah China menyebut 2026 sebagai tahun di mana kemitraan strategis China-Rusia mencapai 30 tahun. Xi Jinping menyebut kerja sama ini terus diperdalam dan diperkuat. Kunjungan Putin dijadwalkan pada Selasa dan Rabu ke Beijing.

Keduanya Bertemu Lebih dari 40 Kali

Kedekatan antara China dan Rusia memunculkan kekhawatiran di Barat, terutama setelah invasi Rusia ke Ukraina pada 2022. Dukungan ekonomi dan diplomatik dari China diklaim membantu Rusia menghadapi tekanan sanksi Barat. Xi dan Putin telah bertemu lebih dari 40 kali, melebihi jumlah pertemuan Xi dengan para pemimpin Barat.

Perdagangan dan Dukungan Sino-Rusia

Perdagangan bilateral antara China dan Rusia meningkat tajam sejak 2022. China saat ini menjadi pembeli terbesar lebih dari seperempat ekspor Rusia, terutama minyak mentah. Hal ini sangat membantu keuangan Rusia untuk membiayai kegiatan perang di Ukraina.

Data dari Centre for Research on Energy and Clean Air menunjukkan bahwa China telah menghabiskan lebih dari US$367 miliar untuk bahan bakar fosil dari Rusia sejak invasi dimulai. Selain itu, peningkatan impor energi dari Rusia juga menjadi faktor penting dalam menjaga keamanan energi nasional China, terutama setelah krisis di Timur Tengah yang mempengaruhi pengiriman minyak melalui Selat Hormuz.

Isu Kepentingan dalam Pertemuan China-Rusia

Menariknya, isu Ukraina dan hubungan Sino-Rusia hampir tidak dibicarakan dalam pertemuan Trump-Xi di Beijing. Fokus pembicaraan lebih pada perdagangan, Taiwan, dan konflik di Timur Tengah. Xi menekankan pentingnya menangani isu Taiwan dengan hati-hati, sementara Trump pulang tanpa kepastian terkait penjualan senjata ke Taiwan.

Peneliti senior Atlantic Council, Joseph Webster, menyatakan bahwa Taiwan bisa menjadi faktor penting dalam pertemuan antara Xi dan Putin. Beijing cenderung ingin memperluas kesepakatan energi dengan Moskow sebagai langkah antisipasi jika terjadi konflik di masa depan.

Source link