Xiaomi Indonesia ikut menanggapi rencana Uni Eropa yang bakal mewajibkan smartphone memakai baterai yang bisa dilepas-pasang mulai 2027. Kebijakan ini memantik pertanyaan soal arah desain ponsel ke depan, termasuk apakah produsen global akan ikut menyesuaikan produknya di pasar lain. Dari pihak Xiaomi, respons yang muncul masih berhati-hati: perusahaan belum mau buru-buru memberi komentar soal dampak aturan tersebut terhadap lini produk di Indonesia.
Xiaomi Masih Menunggu Kepastian Dampak Aturan
Direktur Pemasaran Xiaomi Indonesia, Andi Renreng, mengatakan pihaknya belum bisa memberikan penjelasan lebih jauh terkait penyesuaian aturan itu. Menurut dia, Xiaomi masih memantau perkembangan sebelum menyimpulkan apakah ada implikasi langsung terhadap produk yang dipasarkan di Indonesia. Meski begitu, Xiaomi menegaskan satu hal: setiap produk yang dijual akan selalu mengikuti regulasi di negara masing-masing.
Uni Eropa Dorong Perangkat Lebih Mudah Diperbaiki
Aturan baru yang akan berlaku pada 2027 itu merupakan bagian dari kebijakan Right to Repair. Tujuannya jelas, yakni mendorong perangkat elektronik lebih mudah diperbaiki, menekan degradasi baterai, dan mengurangi limbah elektronik. Tidak hanya smartphone, kebijakan ini juga disebut akan menyentuh tablet, kacamata pintar, hingga konsol generasi terbaru.
Tak Sepenuhnya Balik ke Era Baterai Copot-Pasang
Meski sering disebut sebagai kembalinya desain lama, aturan Uni Eropa tidak otomatis membuat ponsel kembali seperti era baterai mudah dilepas sepenuhnya. Produsen tetap diminta menyediakan alat pembongkar kecil agar pengguna bisa mengganti baterai sendiri. Artinya, arah regulasi ini lebih menekankan kemudahan servis ketimbang menghidupkan kembali model ponsel lawas.
Di tengah perubahan itu, Xiaomi memilih bersikap realistis: memantau arah kebijakan global, tanpa mengabaikan aturan lokal. Dalam konteks Indonesia, perusahaan memastikan produk yang hadir tetap mengikuti ketentuan yang berlaku di dalam negeri, sebagaimana disampaikan dalam keterangan yang dikutip dari Xiaomi Indonesia.





