Di saat daratan berisiko mengering, laut justru berpeluang memberi kabar baik. Pakar oseanografi menilai musim kemarau yang diperkirakan lebih kering pada 2026 tak hanya membawa ancaman kekeringan akibat kemungkinan El Nino, tetapi juga membuka peluang meningkatnya kesuburan laut. Kondisi ini dinilai bisa menjadi angin segar bagi sektor perikanan, terutama jika fenomena upwelling berlangsung kuat di perairan Indonesia.
Upwelling Berpotensi Angkat Produktivitas Laut
Ahli oseanografi Widodo Pranowo menjelaskan, angin Timuran yang menguat pada awal kemarau dapat mendorong air permukaan menjauh dari pantai. Posisi itu kemudian digantikan oleh air laut yang lebih dingin dari lapisan bawah dan membawa nutrisi lebih banyak. Proses inilah yang dikenal sebagai upwelling, dan dampaknya bisa mendorong pertumbuhan fitoplankton melalui fotosintesis.
Menurut Widodo, kondisi tersebut diperkirakan mencapai puncaknya pada Juli hingga Agustus 2026. Jika pola ini terjadi sesuai prediksi, produktivitas laut berpotensi meningkat signifikan pada periode tersebut.
Selat Bali Diperkirakan Jadi Area Penting
Fenomena itu juga diyakini dapat menarik keberlimpahan ikan pelagis kecil, termasuk lemuru, di Selat Bali. Bagi nelayan, ini bukan sekadar fenomena alam, melainkan sinyal bahwa musim tertentu bisa menghadirkan peluang tangkapan yang lebih baik dibanding periode lain.
Studi terbaru tentang upwelling di selatan Jawa turut memperkuat pandangan bahwa wilayah ini merupakan habitat penting bagi migrasi dan pemijahan ikan ekonomis. Artinya, dinamika laut di kawasan tersebut punya peran langsung terhadap keberlanjutan stok ikan.
El Nino Tak Selalu Berarti Kabar Buruk untuk Semua Sektor
Meski El Nino kerap dikaitkan dengan kekeringan di daratan, sinerginya dengan angin musim bisa justru memperkuat intensitas upwelling. Dalam konteks ini, laut berpotensi menjadi sumber pangan alternatif yang nilainya tak kalah penting di tengah tekanan cuaca kering.
Karena itu, para ahli menekankan pentingnya riset dan pemantauan yang lebih cermat agar potensi hasil laut bisa dimanfaatkan secara optimal, tanpa mengabaikan dampak serius kekeringan yang mungkin terjadi di wilayah daratan.
Seperti disampaikan dalam sumber yang dikutip, momentum musim kemarau 2026 bukan hanya soal ancaman air berkurang di permukaan tanah, tetapi juga soal peluang besar yang tersembunyi di bawah permukaan laut.





