BMKG melaporkan bahwa sirkulasi siklonik merupakan penyebab hujan lebat di beberapa wilayah Indonesia selama masa peralihan ke musim kemarau. Potensi hujan lebat ini diprakirakan akan berlangsung hingga pekan depan. Pada tanggal 2-5 April, BMKG mencatat curah hujan tertinggi terjadi di Bengkulu, Jawa Barat, dan Aceh dengan intensitas sangat lebat. Di samping itu, hujan dengan intensitas lebat juga mengguyur wilayah seperti Kalimantan Tengah, DK Jakarta, Banten, Papua Tengah, Sulawesi Selatan, dan DI Yogyakarta. Kondisi ini dipengaruhi oleh gelombang atmosfer dan fenomena MJO yang melintasi beberapa wilayah di Indonesia. Masa peralihan dari Monsun Asia ke Monsun Australia juga turut memengaruhi pola sirkulasi udara dan daerah konvergensi di sejumlah wilayah. Faktor lain seperti perlambatan angin dan pemanasan permukaan kuat pada siang hari juga mendukung pertumbuhan awan-awan konvektif yang berpotensi menimbulkan hujan. Sirkulasi siklonik di beberapa perairan juga memicu terbentuknya daerah konvergensi dan konfluensi yang dapat meningkatkan pertumbuhan awan hujan di sekitar wilayah yang terdampak. BMKG memperkirakan potensi hujan lebat masih akan berlangsung hingga sepekan ke depan, dengan sirkulasi siklonik berpotensi terbentuk di beberapa perairan di Indonesia. Selain itu, fenomena Madden-Julian Oscillation dan gelombang atmosfer lainnya juga diprediksi akan berdampak pada pertumbuhan awan hujan di berbagai wilayah Indonesia dalam periode tersebut. Wilayah-wilayah yang berpotensi diguyur hujan lebat hingga sangat lebat juga telah diidentifikasi oleh BMKG untuk sepekan ke depan.
Potensi Hujan Lebat Akibat Sirkulasi Siklonik – Daftar Daerah



