NASCAR mengambil langkah baru dalam persaingan teknologi dengan menunjuk Richard Bowman sebagai Direktur Kecerdasan Buatan pertama di organisasi itu. Penunjukan ini menandai sinyal kuat bahwa AI bukan lagi sekadar tren sampingan, melainkan bagian dari arah kerja yang ingin dikelola secara serius oleh olahraga balap tersebut.
Bowman: AI harus berguna, bukan hanya canggih
Lewat unggahan di LinkedIn, Bowman menyampaikan rasa antusiasnya atas peran baru itu. Ia menekankan bahwa pengalaman panjangnya di bidang teknologi pendidikan membentuk cara pandangnya terhadap inovasi. Menurut Bowman, teknologi hanya bernilai jika benar-benar bisa dipakai, dipercaya, dan membantu pekerjaan sehari-hari.
Ia juga menyoroti bahwa perkembangan AI datang bersama dua hal sekaligus: peluang besar dan tanggung jawab yang tidak kecil. Karena itu, ia menyebut perlunya kejelasan, tata kelola, dan adopsi yang dipikirkan dengan matang agar penerapan AI tidak sekadar mengikuti arus.
Sudah bergabung sejak Januari
Bowman sebenarnya telah bekerja bersama NASCAR sejak Januari, namun baru kini resmi mendapat jabatan sebagai Direktur AI. Dengan posisi tersebut, ia akan berada di garis depan dalam membantu NASCAR merumuskan cara kerja AI di lingkungan organisasi yang terus berkembang.
Dalam pernyataannya, Bowman juga berterima kasih kepada pihak-pihak yang mendukungnya sejauh ini dan menyebut dirinya bersemangat melanjutkan pekerjaan tersebut. Nada pesannya menunjukkan bahwa NASCAR tidak hanya ingin mengejar inovasi, tetapi juga menempatkannya dalam kerangka yang lebih terukur.
AI mulai masuk ke dunia balap
Langkah NASCAR ini sejalan dengan semakin luasnya penggunaan AI di dunia balap mobil. Beberapa tim NASCAR disebut sudah mulai memanfaatkan alat berbasis AI untuk mendukung pekerjaan mereka, termasuk dalam pembahasan yang pernah disampaikan Direktur Teknologi Trackhouse Racing, Phil Surgen, menjelang musim 2026.
Dengan menunjuk direktur AI secara khusus, NASCAR tampaknya ingin memastikan transformasi itu tidak berjalan liar, melainkan diarahkan secara lebih jelas. Di tengah kompetisi yang makin ketat, keputusan ini menjadi penanda bahwa masa depan balap juga akan ditentukan oleh cara organisasi mengelola data, teknologi, dan kecerdasan buatan.





