Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bersama dengan beberapa pihak telah menemukan jejak Sesar Cisadane di wilayah Jabodetabek. Sesar ini merupakan salah satu struktur geologi di sekitar Jakarta bersama dengan Sesar Baribis dan Sesar Citarik. Penelitian lapangan dilakukan di Gunung Nyungcung di Rumpin, Kabupaten Bogor, yang melibatkan berbagai lembaga dan perusahaan. Area ini memiliki ketinggian 240 meter di atas permukaan laut dan merekam jejak aktivitas tektonik masa lalu.
Tim peneliti menggunakan berbagai metode seperti analisis data gaya berat, seismik, pengamatan geologi di permukaan, dan pemetaan udara menggunakan teknologi drone dengan sensor LiDAR. Temuan menunjukkan adanya sesar mendatar berarah barat laut tenggara yang dinamai Sesar Cisadane. Wilayah di sekitar Gunung Nyungcung terutama terdiri dari batu pasir gampingan, menunjukkan kemungkinan dasar laut yang terangkat ke permukaan.
Di Gunung Panjang, peneliti menemukan lebih banyak bukti aktivitas tektonik pada masa lalu. Informasi ini penting karena sesar Cisadane diduga memiliki potensi aktif. Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria, mengatakan bahwa Sesar Cisadane merupakan sesar tua yang terbentuk sekitar 5 juta tahun lalu. Meskipun belum aktif, masyarakat sekitar perlu tetap waspada terhadap potensi bahaya yang bisa ditimbulkan.
Menurut Lana, masyarakat diminta untuk mematuhi arahan dari petugas setempat dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak bertanggung jawab terkait gempa bumi atau tsunami. Bangunan di daerah rawan perlu mematuhi standar tahan gempa dan dilengkapi dengan jalur evakuasi. Dengan begitu, keselamatan masyarakat sekitar sesar Cisadane tetap terjaga.



