Observatorium Bosscha Institut Teknologi Bandung (ITB) menyajikan informasi terbaru terkait posisi hilal Lebaran yang diperkirakan akan muncul pada Kamis mendatang. Menurut peneliti Yatny Yulianty dari Observatorium Bosscha ITB, kondisi astronomis hilal saat ini berada pada tingkat kesulitan yang cukup tinggi untuk diamati. Keberhasilan pengamatan hilal dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti kondisi atmosfer, transparansi langit, serta metode dan pengalaman pengamat.
Berdasarkan perhitungan dari Observatorium Bosscha, pada Kamis yang bertepatan dengan 29 Ramadan 1447 H, posisi bulan relatif dekat dengan matahari di langit barat saat matahari terbenam. Parameter geometri bulan menunjukkan elongasi geosentrik di wilayah Indonesia berkisar antara 4,6 hingga 6,2 derajat dari timur ke barat. Sementara elongasi toposentrik berada di kisaran 4,0 hingga 5,5 derajat.
Ketinggian bulan saat matahari terbenam juga tergolong rendah, dengan ketinggian hilal di wilayah Indonesia bagian barat berkisar antara 0 hingga 3 derajat di atas ufuk. Hal ini menandakan bahwa bulan berada dekat dengan matahari di langit barat dan berada pada ketinggian relatif rendah di langit.
Untuk melacak visibilitas hilal, para astronom akan melakukan pengamatan di dua lokasi, yaitu Observatorium Bosscha di Lembang dan Observatorium Lhok Nga di Aceh. Observatorium Lhok Nga dipilih karena parameter posisi bulan di wilayah Aceh berada di sekitar batas visibilitas hilal yang saat ini digunakan.
Penetapan awal bulan Syawal tetap menjadi kewenangan Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama dalam sidang isbat pada 19 Maret 2026. Observatorium Bosscha berperan sebagai penyedia informasi ilmiah yang dapat membantu dalam proses penetapan tersebut.
Dengan demikian, pengamatan dan analisis hilal yang dilakukan oleh Observatorium Bosscha ITB dapat menjadi referensi penting dalam penentuan awal bulan Syawal. Hal ini juga menegaskan peran penting observatorium dalam mendukung kegiatan astronomi di Indonesia.



