Bukti Penggunaan Feses sebagai Obat di Romawi: Mitos atau Fakta?
Selama ini, kisah bangsa Romawi kuno yang memakai kotoran sebagai obat sering terdengar seperti cerita pinggir yang sulit dipercaya. Namun, temuan arkeologis terbaru membuat anggapan itu bergeser dari sekadar anekdot menjadi sesuatu yang punya dasar nyata. Penelitian tim ilmuwan Turki menemukan jejak fisik bahwa bahan yang tak lazim tersebut memang pernah masuk ke dalam ramuan medis pada masa Romawi.
Jejak Ramuan Kuno dari Botol Kaca di Museum Bergama
Dalam studi yang dimuat di Journal of Archaeological Science: Reports, arkeolog Cenker Atila dari Universitas Sivas Cumhuriyet meneliti sisa zat yang masih menempel di dalam botol kaca Romawi atau unguentaria. Sampel itu diambil dari koleksi Museum Bergama. Hasil analisis menunjukkan adanya campuran yang terdiri dari kotoran manusia, thyme, dan minyak zaitun.
Komposisi tersebut dinilai sejalan dengan resep yang pernah dikaitkan dengan Galen, dokter Romawi paling terkenal. Temuan ini penting karena tidak hanya menguatkan catatan tertulis dari zaman kuno, tetapi juga memberi bukti bahwa praktik itu benar-benar digunakan dalam kehidupan medis Romawi, bukan sekadar gagasan yang hidup di teks.
Dari Naskah Kuno ke Bukti Arkeologi
Sebelumnya, penggunaan feses sebagai obat lebih banyak diketahui melalui sumber-sumber tertulis. Kini, isi botol kuno itu menghadirkan bukti arkeologis pertama yang secara jelas mendukung praktik tersebut. Penelitian ini juga membuka kembali pembahasan tentang pemakaian kotoran hewan dalam pengobatan kuno untuk berbagai keluhan.
Profesor sejarah kuno Universitas Oxford, Nicholas Purcell, menilai temuan itu sah dibaca dalam kerangka arkeologi dan memberi sudut pandang baru terhadap dunia medis Romawi. Dari sini terlihat bahwa cara masyarakat kuno memahami penyakit dan penyembuhan jauh lebih kompleks daripada yang kerap dibayangkan hari ini.
Wadah Parfum yang Menyimpan Obat
Penelitian ini sekaligus mengubah cara pandang terhadap unguentaria. Selama ini, wadah kaca kecil tersebut lebih sering dianggap sebagai tempat parfum atau minyak harum. Namun, hasil studi menunjukkan fungsinya bisa lebih luas, termasuk untuk menyimpan bahan obat.
Dari satu botol kecil yang tersimpan di museum, muncul gambaran yang lebih besar tentang praktik pengobatan Romawi: campuran bahan yang mungkin terasa janggal bagi pembaca modern, tetapi dianggap masuk akal pada masanya. Arkeologi, dalam kasus ini, tidak hanya membaca benda mati, melainkan juga membongkar ulang cara kuno memandang kesehatan, ramuan, dan penyembuhan.





