Sebuah studi terbaru yang dirilis pada bulan September 2025 mengungkap adanya gelombang laut setinggi 20 meter di Samudra Pasifik dengan bantuan citra satelit. Temuan ini mencatat rekor sebagai gelombang tertinggi yang pernah terukur melalui penggunaan citra satelit dan memunculkan pertanyaan seputar tingkat bahayanya.
Penelitian tersebut menegaskan bahwa gelombang laut bisa menjadi “pembawa pesan” yang mampu mengirimkan energi destruktif ribuan kilometer melintasi samudra tanpa batas pada badai. Meskipun badai tidak langsung menyentuh daratan, gelombang yang dihasilkan masih berpotensi menghantam pantai yang jauh dari pusat badai.
Faktor penentu utama terbentuknya gelombang adalah dorongan angin, yang mencapai puncak kekuatannya ketika badai mencapai klimaksnya. Namun, ancaman sebenarnya terletak pada gelombang panjang yang menjauh dari pusat badai. Gelombang-gelombang ini menyebar luas di lautan dan cenderung membawa konsekuensi yang signifikan, mengungkapkan kekuatan dan dimensi sebenarnya dari badai.
Melalui kombinasi data dari berbagai satelit termasuk SWOT, tim peneliti internasional berhasil melakukan analisis yang lebih dalam terkait gelombang ekstrem. Hasil temuan mereka pun berhasil memvalidasi model gelombang numerik dalam kondisi ekstrem, menunjukkan kemiripan yang signifikan antara pemodelan dan pengukuran satelit.
Studi ini, yang dipublikasikan di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS), memberikan observasi yang penting terkait dampak gelombang laut panjang yang membawa energi besar dan dapat mengancam komunitas pesisir serta infrastruktur maritim. Terlebih dengan kondisi perubahan iklim global yang semakin memengaruhi pola badai, pemahaman yang lebih mendalam sangatlah diperlukan.
Melalui penelitian ini, para ilmuwan pun menegaskan bahwa gelombang laut panjang secara tidak langsung membawa jumlah energi yang signifikan saat menyebar di lautan. Studi juga menunjukkan pemodelan yang menyoroti gelombang tertinggi dalam 34 tahun terakhir, menunjukkan adanya korelasi antara perubahan iklim dan intensitas badai sepanjang waktu, meskipun bukan satu-satunya faktor yang mempengaruhi fenomena tersebut.



