Romain Grosjean, pembalap F1 yang baru-baru ini mengalami kecelakaan di Spa-Francorchamps, menunjukkan performa yang menjanjikan di GP Jepang 2012 dengan menempati posisi kelima di grid. Namun, Mark Webber dari Red Bull mulai kehilangan harapan untuk meraih gelar juara dengan berada di peringkat kelima dalam klasemen, tertinggal 62 poin dari Fernando Alonso. Webber mengalami start buruk, terhambat oleh Kamui Kobayashi dari Sauber sebelum bertabrakan dengan Grosjean.
Insiden di lintasan memicu kemarahan Webber terhadap Grosjean, menyebutnya sebagai “orang gila di lap pertama.” Insinyur balap Grosjean saat itu, Ayao Komatsu, mengakui kesulitan dalam menangani tekanan pembalap Lotus tersebut. Komatsu tidak dapat menawarkan dukungan yang memadai saat Grosjean berada dalam kondisi emosional setelah balapan.
Komatsu juga berbagi pengalamannya ketika bertemu dengan Grosjean di masa lalu dan usahanya untuk membantu pembalap tersebut melewati kendala mental dan performa. Grosjean kini berkonsultasi dengan psikolog olahraga, yang membawa perbaikan signifikan dalam kesehatan mentalnya. Meskipun belum meraih kemenangan, Grosjean telah meraih 10 podium sepanjang kariernya.
Kisah ini menjadi pembelajaran penting dalam dunia balap, di mana aspek mental dan dukungan tim memegang peranan penting dalam kinerja pembalap. Grosjean dan Webber, meskipun mengalami konflik, menunjukkan pentingnya mendukung dan memahami pembalap dalam berbagai situasi. Hal ini juga menggarisbawahi pentingnya dukungan psikologis dalam olahraga balap mobil.





