Ferrari datang ke Bahrain dengan modal yang tidak sepenuhnya terlihat dari papan waktu, tetapi justru dari cara kerja mobilnya selama shakedown di Barcelona. SF-26 menjalani tes awal dengan pendekatan yang hati-hati, dan hasilnya dinilai cukup meyakinkan untuk membuka jalan menuju evaluasi pertama di Sakhir. Di balik itu, Lewis Hamilton menutup lima hari di Catalunya dengan catatan waktu terbaik, meski fokus tim jelas bukan sekadar mengejar angka tercepat, melainkan mengumpulkan data yang lebih penting untuk membaca karakter mobil.
Barcelona memberi sinyal positif, bukan jawaban akhir
Hasil di Catalunya memberi Ferrari alasan untuk optimistis, namun bukan berarti SF-26 sudah selesai diuji. Direktur teknik Loic Serra disebut melakukan penilaian cermat atas data yang terkumpul, sementara simulator tim kini bisa meniru sensasi yang mendekati kondisi asli di lintasan Barcelona. Korelasi yang baik antara trek dan terowongan angin juga menjadi poin penting, karena itu menandakan arah pengembangan mobil berjalan sesuai harapan para aerodinamika Ferrari.
Meski begitu, kompetitivitas SF-26 tetap harus dibuktikan di lintasan yang sesungguhnya. Ferrari masih menunggu gambaran yang lebih jelas soal performa mobil dalam simulasi kualifikasi, yang selama ini menjadi salah satu tolok ukur paling menentukan. Keandalan power unit 067/6 memang sudah terkonfirmasi, tetapi kecepatan satu putaran tetap akan menjadi ujian utama saat persaingan mulai terbuka.
Pembaruan awal sudah disiapkan untuk Sakhir
Ferrari tidak datang ke Bahrain hanya untuk mengulang tes, melainkan untuk mulai membaca potensi pengembangan mobil. Sesi pertama di Sakhir disebut akan menjadi panggung bagi pembaruan awal SF-26. Kehadiran Guillaume Dezoteux, yang bergabung dari Racing Bulls, juga memperkuat tenaga kerja tim dalam merancang dan menyalurkan evolusi mobil lebih cepat dan lebih terarah.
Dengan kombinasi data dari Barcelona, dukungan simulator, dan struktur teknis yang diperkuat, Ferrari tampak ingin memastikan setiap langkah pengembangan benar-benar berangkat dari dasar yang solid. Ini penting karena SF-26 bukan mobil yang dibangun untuk sensasi sesaat, melainkan untuk memberi ruang perbaikan yang konsisten sepanjang musim.
Desain SF-26 dibuat tanpa S-duct
Secara visual, SF-26 membawa pendekatan yang cukup khas. Airbox kecil berbentuk segitiga menjadi salah satu ciri paling mencolok, sementara Ferrari juga memilih tidak memakai S-duct pada mobil ini. Keputusan itu menunjukkan fokus yang berbeda: alih-alih menambah kompleksitas pada bagian depan, Ferrari tampaknya lebih menekan efisiensi sistem pendinginan dan aliran udara secara keseluruhan.
Desain bodi yang lebih ramping serta integrasi mesin endotermik di dalam paket aerodinamika mobil memberi peluang untuk meningkatkan downforce tanpa mengorbankan kecepatan. Ferrari jelas berharap konfigurasi ini bisa membuat SF-26 tampil lebih tajam ketika masuk ke sesi kedua di Bahrain, saat mobil mulai diuji bukan hanya sebagai prototipe yang menjanjikan, tetapi sebagai kandidat serius di persaingan sebenarnya.
Atribusi sumber: laporan teknis dan informasi awal mengenai Ferrari SF-26 sebagaimana disusun dari materi sumber yang diberikan.



