Menyelusuri Fenomena Awan Kontainer Ramai di Medsos

by -209 Views

Fenomena “awan kontainer” yang belakangan ramai dibahas di media sosial rupanya menyisakan banyak salah kaprah. Di tengah beredarnya klaim soal cuaca ekstrem hingga keluhan seperti kulit gatal, mata perih, dan air hujan yang berbusa, Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan, menegaskan bahwa istilah tersebut tidak dikenal dalam ilmu meteorologi.

Menurut Sonni, persoalan utama justru terletak pada cara publik membaca fenomena atmosfer. Istilah “awan kontainer” dinilainya bukan penjelasan ilmiah, melainkan tafsir yang keliru terhadap peristiwa cuaca yang sebenarnya punya dasar berbeda.

Istilah yang Tidak Dikenal dalam Meteorologi

Sonni menegaskan bahwa dalam kajian meteorologi, tidak ada istilah resmi bernama awan kontainer. Karena itu, ia menilai narasi yang beredar di media sosial telah mencampuradukkan istilah populer dengan pemahaman yang tidak tepat tentang awan dan hujan.

Ia juga mengingatkan bahwa awan bukanlah objek yang kaku atau diam di satu tempat. Awan selalu bergerak dan berubah bentuk mengikuti dinamika atmosfer. Pandangan bahwa awan bisa diperlakukan seolah-olah benda tetap, kata dia, menunjukkan kesalahan dalam memahami proses cuaca.

Keluhan Kesehatan Tak Bisa Langsung Dikaitkan ke Awan

Menanggapi klaim bahwa hujan dari fenomena tersebut memicu gatal-gatal, mata perih, hingga busa pada air hujan, Sonni menjelaskan bahwa penyebabnya bukan jenis awan tertentu. Gejala seperti itu lebih berkaitan dengan hujan asam yang dipicu gas-gas polutan di udara.

Dengan kata lain, fokus persoalan seharusnya bukan pada “awan” yang disebut-sebut viral, melainkan pada kualitas udara dan kandungan polutan yang memengaruhi air hujan.

Jejak Pesawat Bukan Awan Kontainer

Sonni juga menyoroti kesalahpahaman lain yang kerap muncul di linimasa, yakni jejak garis lurus di langit yang dikaitkan dengan fenomena atmosfer tertentu. Ia menjelaskan bahwa garis tersebut adalah jejak kondensasi pesawat atau contrail, bukan “awan kontainer” seperti yang ramai disebut.

Melalui penjelasannya, ia mengajak masyarakat untuk lebih kritis saat menerima informasi cuaca yang viral. Menurutnya, klaim tanpa dasar ilmiah mudah memicu kebingungan, apalagi jika langsung dipercaya dan disebarkan ulang tanpa verifikasi.

Atribusi sumber: penjelasan Sonni Setiawan, Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University.