Menyelusuri Fenomena Awan Kontainer Ramai di Medsos

by -27 Views

Dalam isu fenomena atmosfer “awan kontainer” yang menjadi perbincangan hangat di media sosial, Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan, menegaskan adanya kesalahan dalam memahami fenomena tersebut. Istilah “awan kontainer” yang kerap dikaitkan dengan kondisi cuaca ekstrem dan keluhan kesehatan seperti gatal-gatal pada kulit, mata perih, serta busa pada air hujan, sebenarnya tidak dikenal dalam ilmu meteorologi. Sonni menjelaskan bahwa istilah tersebut lebih merupakan kesalahpahaman dalam memahami fenomena atmosfer.

Kritik juga ditujukan kepada narasi yang berkembang di media sosial yang cenderung mengandung kekeliruan dalam memahami proses terbentuknya hujan. Sonni menekankan bahwa hujan yang menimbulkan keluhan kesehatan tersebut bukan disebabkan oleh jenis awan tertentu, melainkan berkaitan dengan fenomena hujan asam yang dipicu oleh gas-gas polutan di udara.

Selain itu, Sonni juga menyoroti anggapan bahwa awan bersifat kaku dan tidak bergerak. Ia menjelaskan bahwa awan secara alami selalu bergerak dan berubah bentuk mengikuti dinamika atmosfer. Mengenai jejak pesawat di langit yang kerap dikaitkan dengan fenomena atmosfer, Sonni menjelaskan bahwa garis lurus yang terlihat merupakan jejak kondensasi pesawat atau contrail, bukan “awan kontainer”.

Dalam penutupannya, Sonni mendorong masyarakat agar lebih kritis dalam menyikapi informasi cuaca yang viral di media sosial dan tidak mudah menyimpulkan fenomena atmosfer berdasarkan klaim tanpa dasar ilmiah. Hal ini diperlukan untuk mencegah penyebaran informasi yang keliru di tengah masyarakat luas.

Source link