Jawa dan Kalimantan Disebut Berisiko Menyusul Sumatra Jika Pola Pembangunan Tak Berubah
Bencana ekologis yang kini melanda sejumlah wilayah di Sumatra dinilai bukan peristiwa yang berdiri sendiri. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia atau Walhi memperingatkan, pola serupa sangat mungkin menjalar ke Pulau Jawa dan Kalimantan bila arah pembangunan nasional tak segera dibenahi.
Dalam pandangan Walhi, persoalan ini sudah terlalu lama diperlakukan sebagai kejadian musiman, padahal akar masalahnya justru bersumber dari tata kelola sumber daya alam yang bermasalah. Alih-alih mereda, tekanan terhadap ruang hidup warga disebut terus membesar seiring kebijakan pembangunan yang lebih mengejar pertumbuhan ekonomi.
Bencana Lingkungan yang Kini Menjadi Rutinitas
Pengkampanye Urban Berkeadilan Eksekutif Nasional Walhi, Wahyu Eka Setyawan, mengatakan bencana lingkungan kini tidak lagi bisa disebut langka. Menurut dia, berbagai kejadian seperti banjir rob di pesisir utara Jawa menunjukkan bahwa kerusakan ekologis sudah menjadi bagian dari keseharian masyarakat.
Wahyu menilai akar persoalan terletak pada pilihan pembangunan yang terlalu menempatkan ekonomi sebagai ukuran utama, tanpa memberi ruang yang cukup bagi perlindungan lingkungan. Dalam situasi seperti itu, bencana bukan lagi soal kemungkinan, melainkan konsekuensi dari kebijakan yang terus dibiarkan berjalan.
Jawa, Kalimantan, hingga Wilayah Lain Tak Luput
Walhi menyoroti bahwa gejala serupa tak hanya tampak di Sumatra. Pulau Jawa, Kalimantan, Bangka Belitung, Kepulauan Riau, dan sejumlah wilayah kepulauan lain juga dinilai menghadapi tekanan serupa akibat ekspansi izin investasi yang kerap mengabaikan daya dukung lingkungan.
Menurut Wahyu, situasi itu membuat masyarakat semakin terpinggirkan, sementara pemerintah daerah kehilangan kendali dalam mengatur tata ruang. Di saat yang sama, ruang-ruang hidup warga makin menyempit karena kebijakan pembangunan cenderung memberi jalan bagi kepentingan investasi ketimbang menjaga keseimbangan ekologis.
Biaya Pertumbuhan yang Kian Mahal
Walhi juga mengingatkan bahwa ancaman bencana ekologis tidak berhenti pada Sumatra, Jawa, dan Kalimantan. Sulawesi disebut tengah diarahkan sebagai pusat energi hijau dan rumah bagi industri nikel, sementara Bali dan sejumlah wilayah lain diposisikan sebagai pusat pariwisata. Papua, menurut Walhi, justru mengalami tekanan paling berat akibat eksploitasi sumber daya alam yang tak terkendali.
Wahyu menegaskan, bencana ekologis telah menjadi realitas yang melekat dalam kehidupan di Indonesia. Dalam pandangan Walhi, pertumbuhan ekonomi yang terus dikejar tanpa koreksi arah hanya akan meninggalkan ongkos sosial dan ekologis yang jauh lebih mahal bagi daerah-daerah berikutnya.
Atribusi sumber: pernyataan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi).





