Tren Kematian Akibat Cuaca Ekstrem Makin Terlihat, tetapi Dampaknya Tak Sama di Tiap Wilayah
Sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa cuaca ekstrem bukan lagi sekadar soal gangguan sementara. Sejak 1988, berbagai wilayah di dunia tercatat menghadapi dampak fatal yang terus berubah, dari banjir dan badai hingga gelombang panas serta dingin ekstrem. Namun, temuan pentingnya justru terletak pada satu hal: tren kematian akibat cuaca ekstrem tidak bergerak seragam di semua tempat.
Beban Cuaca Ekstrem Tak Hanya Soal Korban Jiwa
Penelitian yang dipublikasikan dalam Geophysical Research Letters pada 4 Desember 2025, berjudul Climate Hazard Mortality: Diagnosis Trends and Outliers, menyoroti bahwa dampak cuaca ekstrem terhadap manusia jauh lebih luas daripada angka kematian. Kerugian ekonomi, hilangnya hari kerja, dan rusaknya properti ikut menjadi bagian dari beban yang ditinggalkan bencana iklim.
Studi ini menegaskan bahwa ketika sebuah peristiwa cuaca ekstrem terjadi, konsekuensinya tidak berhenti pada satu kejadian. Efeknya menjalar ke sistem sosial dan ekonomi, terutama di wilayah yang tingkat adaptasinya masih terbatas.
Asia Membaik, Eropa dan Afrika Menghadapi Tekanan Berbeda
Data yang dianalisis menunjukkan pola yang berbeda antarwilayah. Di Asia, kematian akibat banjir dan badai cenderung menurun. Para peneliti mengaitkan hal itu dengan membaiknya sistem peringatan dini serta kemampuan masyarakat untuk beradaptasi.
Situasinya berbeda di Eropa. Kematian akibat gelombang panas justru memperlihatkan tren meningkat, seiring makin seringnya panas ekstrem dan menyusutnya periode cuaca dingin. Artinya, ancaman yang dulu dianggap musiman kini semakin menjadi risiko kesehatan yang nyata.
Sementara itu di Afrika, banjir disebut makin mematikan. Walau dipengaruhi oleh beberapa peristiwa ekstrem dengan dampak besar, arah trennya tetap menunjukkan tekanan yang berat terhadap keselamatan manusia.
Ratusan Peristiwa, Hampir Satu Juta Korban Jiwa
Untuk menyusun analisisnya, studi ini memakai data dari Basis Data Peristiwa Darurat atau EM-DAT. Peneliti menyaring peristiwa yang terjadi sepanjang 1988 hingga 2024, dengan syarat sedikitnya 30 korban jiwa. Dari sana, peristiwa dibagi ke dalam tiga kelompok utama: suhu ekstrem, banjir, dan badai, lalu dipetakan berdasarkan lima benua.
Hasilnya cukup mencolok. Studi tersebut mencatat 300 peristiwa cuaca ekstrem, 1.088 banjir, dan 586 badai, dengan total 940.895 korban jiwa. Angka itu memperlihatkan betapa besar skala risiko yang ditimbulkan oleh bahaya iklim selama periode penelitian.
Dalam menghitung besaran kematian, peneliti menggunakan distribusi Pareto umum atau generalized Pareto distribution (GPD), karena peristiwa-peristiwa tersebut mewakili bagian atas dari sebaran kematian akibat bahaya iklim. Pendekatan ini membantu menggambarkan bagaimana dampak paling fatal tersebar sepanjang waktu dan wilayah.





