Kanada dan China Batal Kesepakatan Perdagangan Bebas

by -88 Views

Pada Selasa, 27 Januari 2026, Perdana Menteri Kanada Mark Carney menyatakan bahwa negaranya tidak berencana untuk mengejar perjanjian perdagangan bebas dengan China setelah peringatan dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait ancaman penerapan tarif 100 persen terhadap ekspor Kanada. Carney menegaskan kembali komitmen Ottawa pada Perjanjian Kanada-Amerika Serikat-Meksiko (CUSMA) dan menegaskan bahwa tidak akan ada kesepakatan perdagangan yang dilakukan tanpa melalui proses konsultasi.

Dalam unggahan di Truth Social, Trump menuduh Carney berupaya membuat Kanada sebagai “pelabuhan transit” bagi produk China, sebuah tuduhan yang ditolak oleh Carney. Ketegangan antara keduanya semakin meningkat setelah Trump mencabut undangan Kanada untuk bergabung dalam Dewan Perdamaian, merujuk pada pidato Carney di World Economic Forum yang memperingatkan tentang bahaya pemaksaan ekonomi oleh negara-negara besar.

Meski sebelumnya Trump mendukung upaya Kanada dalam menjalin hubungan dagang dengan China, pemerintahan AS kini menganggap kesepakatan awal antara Kanada dan China sebagai risiko terhadap keamanan perdagangan Amerika. Kesepakatan ini meliputi masuknya 49.000 kendaraan listrik buatan China ke Kanada dengan tarif 6,1 persen, sementara Beijing akan menurunkan tarif ekspor produk pertanian Kanada seperti minyak biji kanola.

Carney menyatakan bahwa kesepakatan ini memperbaiki sejumlah persoalan yang ada selama beberapa tahun terakhir dan sepenuhnya sejalan dengan CUSMA. Sebagai tanggapan terhadap situasi ini, banyak negara lain seperti AS, China, Malaysia, Uni Eropa, dan Inggris tertarik untuk mengejar keuntungan dari potensi harta karun baru di Indonesia, termasuk Rare Earth yang saat ini menjadi rebutan. Semua ini menimbulkan pertanyaan akan kemungkinan Indonesia membuka kerja sama dengan negara yang sudah memiliki teknologi pemurnian logam tanah jarang tersebut.

Source link