Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan adanya peningkatan cuaca ekstrem di wilayah selatan Indonesia, terutama di Pulau Jawa dan Sumatra bagian selatan dalam minggu mendatang. Hal ini disebabkan oleh potensi seruan dingin dari Benua Asia dan perbedaan tekanan udara yang tinggi di Laut Cina Selatan. Proses ini memperkuat masuknya monsun Asia melalui ekuator, yang berdampak pada peningkatan cuaca ekstrem di berbagai wilayah di Selatan Indonesia.
Selain itu, BMKG memperkirakan dinamika atmosfer dari skala global hingga lokal masih akan berdampak signifikan terhadap kondisi cuaca di Tanah Air. El Niño-Southern Oscillation (ENSO) yang mengalami fase negatif menunjukkan adanya La Niña lemah, yang berpotensi meningkatkan pasokan uap air untuk pembentukan awan hujan di sebagian wilayah Indonesia. Sementara itu, aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) dan gelombang ekuator juga berkontribusi pada pertumbuhan awan hujan di wilayah-wilayah tertentu.
Selain itu, BMKG juga memperhatikan Siklon Tropis Nokaen di Laut Filipina yang diperkirakan akan menguat dan berpengaruh pada pola angin di wilayah utara Indonesia bagian Timur. Bibit Siklon Tropis 97S juga diprediksi akan berpengaruh pada pola angin di sejumlah daerah di sekitarnya.
Dengan adanya kondisi atmosfer seperti ini, sejumlah wilayah di Indonesia berpotensi mengalami hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat hingga 22 Januari mendatang. Daftar wilayah tersebut termasuk Bengkulu, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Selatan. Di sisi lain, Nusa Tenggara Timur berpotensi diguyur hujan dengan intensitas sangat lebat hingga ekstrem.
Periode 23-26 Januari diperkirakan cuaca di Indonesia didominasi oleh hujan ringan hingga hujan lebat. Dengan kondisi cuaca yang berubah-ubah ini, BMKG terus memantau dan memberikan informasi terkini terkait cuaca di Indonesia untuk memastikan keselamatan masyarakat.



