Red Bull dan Ford resmi membuka babak baru kerja sama mereka di Detroit, dan proyek mesin Formula 1 ini bukanlah langkah yang lahir semalam. Di balik peluncuran itu, ada proses panjang yang sudah dimulai Red Bull sejak empat tahun lalu di Red Bull Campus, Milton Keynes. Ambisi untuk punya mesin sendiri sebenarnya bahkan sudah mengemuka jauh sebelum itu, ketika gagasan tersebut dibahas di lingkaran Dietrich Mateschitz dua dekade lalu.
Ambisi lama yang akhirnya dijalankan
David Coulthard, yang pernah menjadi bagian dari tim, disebut ikut mendorong Red Bull sejak awal untuk membangun mesin sendiri. Logikanya sederhana: jika ingin benar-benar menentukan arah, tim harus memegang kendali penuh atas perangkat paling penting di Formula 1. Dengan memiliki power unit sendiri, Red Bull tak lagi sepenuhnya bergantung pada pihak luar untuk menentukan nasib kompetitif mereka.
Langkah itu juga menjadi jawaban atas pengalaman mereka bersama Renault dan Honda. Setelah melalui dinamika kerja sama dengan dua pemasok mesin tersebut, Red Bull memilih membangun basis yang lebih mandiri. Mereka lalu menyiapkan fasilitas mesin di Milton Keynes dan mencari mitra yang dinilai tepat untuk menopang proyek jangka panjang.
Membangun dari nol bukan pekerjaan ringan
Ben Hodgkinson, Direktur Red Bull Powertrains, menggambarkan proyek ini sebagai tantangan besar karena semuanya dimulai dari titik nol. Menurutnya, perusahaan harus dibentuk bukan hanya untuk mengejar target teknis, tetapi juga agar tetap sesuai dengan regulasi yang berlaku. Dalam lima tahun, tim itu berkembang dari hanya lima orang menjadi 700 karyawan.
Hodgkinson menyoroti bahwa menyatukan orang-orang dengan latar belakang berbeda bukan perkara mudah. Namun, justru dari keberagaman itulah muncul keunggulan: kemampuan beradaptasi cepat dan berinovasi dalam waktu singkat. Di dunia F1, kecepatan berpikir sering kali sama pentingnya dengan kecepatan mobil di lintasan.
Fokus teknis dan taruhan jangka panjang
Dari sisi teknis, Red Bull memulai pengembangan dari mesin pembakaran internal, dengan pendekatan yang disebut berbeda dari Honda. Hodgkinson menggambarkan prosesnya seperti lari 400 meter: semua harus dikerahkan secepat mungkin, tanpa tahu persis posisi lawan. Gambaran itu menunjukkan betapa ketatnya tekanan dalam proyek ini, meski hasil akhirnya belum bisa dipastikan sekarang.
Meski begitu, Hodgkinson tetap percaya pada fondasi yang sudah dibangun. Dengan fasilitas yang ada, sumber daya manusia yang terus bertambah, dan dukungan penuh dari Red Bull, proyek ini diposisikan sebagai investasi besar untuk masa depan. Di Formula 1, kontrol atas mesin bukan hanya soal teknis, tetapi juga soal kuasa menentukan arah persaingan sendiri.
Peluncuran bersama Ford di Detroit menjadi penanda bahwa proyek ini sudah melampaui tahap eksperimen. Red Bull kini masuk ke fase yang lebih serius, dengan tekanan besar untuk membuktikan bahwa keputusan mengambil kendali penuh atas power unit memang layak diperjuangkan.





