Nasser Al-Attiyah kembali menegaskan kelasnya di Dakar. Pereli Dacia itu menutup edisi 2026 dengan gelar juara keenam, hasil yang bukan hanya menambah koleksi trofinya, tetapi juga menjaga peluangnya untuk mendekati rekor milik Stephane Peterhansel. Di reli yang berlangsung ketat dan tidak memberi ruang untuk lengah, Al-Attiyah tampil paling efektif saat momen penentuan datang.
Persaingan ketat, kemenangan etape tersebar
Dakar 2026 berjalan jauh dari kata monoton. Sebanyak 10 pembalap berbeda dari lima pabrikan mampu memenangi etape, sebuah gambaran bahwa persaingan kali ini terbuka dan tidak didominasi satu tim seperti pada edisi sebelumnya yang dikuasai Toyota. Ford juga muncul sebagai penantang serius sejak awal, dengan empat mobil pabrik Raptor terbaru yang terus memberi tekanan kepada Toyota dan Dacia.
Al-Attiyah naik saat reli memasuki fase krusial
Performa Al-Attiyah sempat naik-turun sepanjang dua pekan balapan, tetapi justru di saat reli memasuki fase paling penting ia menunjukkan kualitas terbaiknya. Dua kemenangan etape yang ia raih menjadi penegas bahwa pereli Qatar itu tahu kapan harus menyerang. Setelah etape ke-10, posisinya makin kuat dan ia berubah menjadi favorit utama untuk gelar juara umum.
Finis dengan kendali penuh
Dengan keunggulan yang sudah terbentuk pada dua hari terakhir, Al-Attiyah tak lagi perlu mengambil risiko berlebihan. Ia mengatur langkah hingga garis finis dan menutup reli dengan selisih 9 menit 42 detik. Gelar ini menjadi kemenangan Dakar keenamnya, diraih bersama empat pabrikan berbeda, sekaligus menempatkannya semakin dekat dengan catatan Peterhansel yang masih menjadi patokan utama dalam sejarah reli ini.
Menurut catatan resmi reli Dakar, Dacia juga mencatat sejarah tersendiri lewat kemenangan umum keduanya di ajang ini. Sebelumnya, nama Claude Marreau bersama Renault 20 Turbo 4X4 pada 1982 dan Jean-Louis Schlesser dengan buggy bermesin Renault pernah lebih dulu memberi warna pada perjalanan panjang merek Prancis di lintasan paling keras dunia.





