Habitat Paus dan Lumba-lumba di Sumatra: Luar Area Lindung

by -156 Views

Habitat Paus dan Lumba-lumba di Sumatra Ternyata Mayoritas di Luar Kawasan Lindung

Temuan ekspedisi OceanX di perairan barat Sumatra memberi sinyal keras bagi masa depan perlindungan mamalia laut di Indonesia. Dari hasil survei, sekitar 93 persen habitat paus dan lumba-lumba di wilayah ini berada di luar area konservasi yang sudah ada. Artinya, ruang hidup satwa laut tersebut jauh lebih luas daripada batas kawasan lindung yang selama ini menjadi andalan pengelolaan.

Data ini dinilai penting karena selama ini informasi tentang sebaran cetacean di laut lepas Indonesia masih terbatas. Iqbal Herwata, Focal Species Conservation Senior Manager Konservasi Indonesia sekaligus penulis utama studi, menegaskan bahwa survei ini menyediakan dasar ilmiah yang dibutuhkan untuk mengelola cetacean secara lebih tepat di perairan lepas.

Survei Udara Pertama di Barat Sumatra

Penelitian yang dilakukan dalam rangka OceanX Indonesia Mission ini menjadi survei transek udara khusus mamalia laut pertama di perairan barat Sumatra. Kegiatan lapangan berlangsung antara Mei hingga Juli 2024, dengan cakupan perjalanan mencapai 15.043 kilometer, jarak yang disebut setara dari Bali ke Kanada.

Selama ekspedisi, tim mencatat 77 penemuan dari 10 spesies cetacean. Dua temuan yang menonjol adalah konfirmasi udara pertama untuk paus pembunuh dan paus pembunuh kerdil di wilayah tersebut. Bagi para peneliti, catatan ini memperkaya peta keanekaragaman mamalia laut Indonesia yang selama ini belum tergambar utuh.

Sebaran Habitat Dipengaruhi Bentuk Dasar Laut

Analisis sebaran cetacean menunjukkan adanya tujuh klaster habitat yang berbeda. Pola ini dipengaruhi oleh variasi bentuk dasar laut dan tingkat produktivitas perairan. Dengan kata lain, paus dan lumba-lumba tidak tersebar secara acak, melainkan mengikuti kondisi oseanografi yang membentuk wilayah jelajah mereka.

Temuan tersebut menegaskan bahwa pengelolaan konservasi tidak bisa hanya mengandalkan batas kawasan yang statis. Dinamika laut, menurut hasil studi ini, menjadi faktor utama dalam menentukan area yang benar-benar penting bagi kelangsungan hidup mamalia laut di barat Sumatra.

Dasar Baru untuk Perlindungan yang Lebih Tepat Sasaran

Dengan adanya data ilmiah yang lebih rinci, peluang untuk merancang perlindungan spasial yang lebih terarah menjadi semakin terbuka. Hasil studi ini juga disebut mendukung perencanaan ruang laut yang adaptif, sejalan dengan target konservasi jangka panjang menuju 30×45 pada 2045.

Konservasi Indonesia menilai riset ini memberi pijakan penting untuk menyusun perlindungan wilayah barat Sumatra yang lebih sesuai dengan kebutuhan satwa. Kolaborasi OceanX, Konservasi Indonesia, dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjadi bagian penting dalam menghadirkan informasi yang selama ini dibutuhkan untuk memperkuat konservasi mamalia laut di Indonesia.

Berdasarkan laporan yang disampaikan tim riset, temuan ini diharapkan bisa mendorong perhatian lebih besar pada habitat paus dan lumba-lumba di laut lepas, terutama di wilayah yang selama ini belum tercakup dalam perlindungan kawasan konservasi.