Awal Ramadhan 2026: Berpotensi Berbeda, Penjelasan Pakar BRIN

by -235 Views

JAKARTA — Awal Ramadan 2026 diperkirakan kembali memunculkan perbedaan penetapan antara pemerintah dan sebagian ormas Islam. Peneliti Pusat Riset Antariksa BRIN, Thomas Djamaluddin, menyebut posisi hilal pada penghujung 17 Februari 2026 belum memenuhi kriteria yang biasa dipakai pemerintah, sehingga 1 Ramadhan 1447 Hijriah berpotensi jatuh pada 18 Februari atau 19 Februari.

Hilal 17 Februari Dinilai Belum Memenuhi Kriteria Pemerintah

Thomas menjelaskan, pada saat matahari terbenam 17 Februari, hilal belum mencapai syarat minimal dalam kriteria MABIMS yang menjadi acuan pemerintah. Dalam aturan itu, tinggi bulan minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat. Karena itu, menurut perhitungannya, awal Ramadan versi pemerintah belum tentu bisa dimulai pada hari tersebut.

Muhammadiyah Sudah Tetapkan 18 Februari 2026

Di sisi lain, Muhammadiyah telah menetapkan 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada 18 Februari 2026. Perbedaan ini muncul karena Muhammadiyah memakai metode hisab hakiki wujudul hilal, sedangkan pemerintah lebih mengandalkan rukyat atau pengamatan hilal di lapangan dengan kriteria yang berlaku.

Perbedaan yang Kerap Terjadi Tiap Tahun

Thomas juga menyinggung bahwa pada 18 Februari, kriteria yang digunakan sejumlah ormas Islam dengan acuan Turki sudah terpenuhi. Kondisi inilah yang membuat kemungkinan awal puasa berbeda antarlembaga tetap terbuka. Hingga kini, Kementerian Agama belum menetapkan secara resmi awal Ramadan 2026, sehingga kepastian tanggal masih menunggu hasil sidang isbat.

Perbedaan penentuan awal Ramadan seperti ini bukan hal baru. Setiap tahun, hasil hisab dan rukyat kerap melahirkan kemungkinan tanggal yang tidak sama, tergantung metode yang digunakan masing-masing pihak.