Presiden RI Prabowo Subianto menyorot persoalan gizi anak Indonesia dari sisi yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari: banyak anak berangkat ke sekolah tanpa sarapan. Dalam pandangannya, kondisi ini menunjukkan bahwa masalah gizi tidak berhenti pada angka stunting semata, tetapi juga menyangkut kebiasaan makan anak sebelum memulai aktivitas belajar. Prabowo menyampaikan hal itu saat retret Kabinet Merah Putih di Bukit Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Jutaan Anak Berangkat Sekolah dalam Keadaan Perut Kosong
Prabowo menyebut puluhan juta anak di Indonesia masih pergi ke sekolah tanpa makan pagi. Sebagian dari mereka, kata dia, hanya mengandalkan makanan seadanya. Situasi ini dinilai berdampak langsung pada kesehatan, tumbuh kembang, dan daya tahan anak. Dengan kata lain, persoalan gizi tidak selalu tampak dalam data besar, tetapi bisa terlihat dari rutinitas sederhana yang dialami anak setiap hari.
MBG Jadi Andalan Pemerintah
Untuk menjawab persoalan itu, pemerintah mendorong Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai langkah nyata memperbaiki asupan anak-anak Indonesia. Prabowo menyebut program ini sudah menjangkau puluhan juta penerima manfaat di berbagai daerah. Ia mengakui, program berskala besar tidak lepas dari kekurangan dan potensi penyimpangan, tetapi menurutnya capaian MBG tetap tergolong sangat tinggi dan menjadi kemajuan penting dalam upaya memperbaiki gizi anak.
Prabowo Bandingkan dengan Negara Lain
Dalam sambutannya, Prabowo juga menyinggung kecepatan Indonesia dalam memperluas jangkauan program tersebut jika dibandingkan dengan negara lain, termasuk Brasil. Perbandingan itu ia gunakan untuk menegaskan bahwa capaian Indonesia bukan hal kecil. Di tengah tantangan yang masih ada, pemerintah menilai langkah ini sebagai salah satu upaya terbesar untuk memastikan anak-anak Indonesia tidak lagi memulai hari sekolah dengan kondisi perut kosong.
Berdasarkan pernyataan Prabowo dalam retret Kabinet Merah Putih di Hambalang, persoalan gizi anak kini ditempatkan sebagai pekerjaan rumah yang tak bisa ditunda, karena menyangkut kualitas generasi yang sedang tumbuh hari ini.





