Militer Myanmar kembali menjadi sorotan setelah mengumumkan amnesti bagi ribuan tahanan bertepatan dengan peringatan HUT Kemerdekaan Myanmar ke-78. Sebanyak 6.186 orang dibebaskan, termasuk 52 warga negara asing, dalam langkah yang langsung menarik perhatian publik di tengah situasi politik yang masih tegang.
Amnesti di Tengah Kontrol Militer yang Masih Ketat
Di antara nama-nama yang keluar dari penjara terdapat mantan menteri informasi yang sebelumnya ditahan karena mengkritik pemerintah militer. Namun, amnesti ini tidak menyentuh Aung San Suu Kyi, tokoh yang dipenjara sejak kudeta militer pada 2021 dan tetap menjadi simbol utama oposisi sipil di Myanmar.
Pemilu Berjalan, Kritik Internasional Tak Surut
Pemberian amnesti itu muncul saat Myanmar sedang menjalankan pemilihan umum multi-tahap yang dinilai banyak pihak sebagai upaya militer untuk mengunci kembali kendali politik. Partai-partai pro-demokrasi, termasuk partai yang dipimpin Suu Kyi, tidak dilibatkan dalam proses tersebut. Pemilu digelar dalam tiga fase hingga 25 Januari, dengan hasil akhir dijadwalkan diumumkan pada akhir bulan ini.
Di Luar Politik, Indonesia Justru Menang atas Myanmar
Di lapangan olahraga, Myanmar juga menjadi lawan yang harus ditaklukkan. Tim voli putri Indonesia memastikan langkah ke semifinal SEA Games 2025 setelah menang meyakinkan 3-0 atas Myanmar. Hasil ini membuka peluang Indonesia merebut posisi juara Grup B sekaligus menghindari pertemuan dengan Thailand pada fase berikutnya.
Sementara itu, kritik dari komunitas internasional terhadap pemilu Myanmar terus menguat, dengan banyak pihak menilai proses tersebut tak lebih dari cara militer mempertahankan kekuasaan di tengah penolakan terhadap oposisi sipil.





