Playing Victim: Ciri, Penyebab, & Cara Mengatasinya

by -49 Views

Playing victim atau perilaku korban seringkali dilakukan oleh seseorang yang menyandang status sebagai korban dalam setiap konflik, meskipun tidak sepenuhnya benar. Hal ini terjadi bukan hanya untuk mendapat simpati, tetapi juga sebagai alat pertahanan diri untuk menghindari tanggung jawab. Perilaku ini bisa berdampak negatif pada hubungan sosial dan kesehatan mental seseorang, jika tidak ditangani dengan tepat.

Menurut Alodokter dan Halodoc, playing victim merupakan perilaku seseorang yang terus-menerus menganggap dirinya sebagai korban dan suka menyalahkan orang lain atas setiap kesulitan yang dihadapinya, meskipun kenyataannya sebaliknya. Hal ini juga bisa menjadi tanda adanya gangguan kesehatan mental, seperti gangguan kepribadian narsistik, borderline personality disorder (BPD), atau PTSD.

Perilaku playing victim umumnya muncul dari perasaan menderita yang dilebih-lebihkan dan hilangnya rasa kendali diri. Selain itu, sering kali berakar dari pengalaman traumatis di masa lalu. Orang yang terjebak dalam perilaku ini cenderung memiliki tiga pola pikir, yaitu percaya bahwa kemalangan akan terjadi berulang kali, menyalahkan orang lain atas masalahnya, dan bersikap pesimis.

Mengenali ciri-ciri dari perilaku playing victim dapat membantu kita untuk tidak terjebak dalam manipulasi seseorang. Karakteristik seseorang yang melakukan playing victim antara lain selalu menyalahkan pihak luar, menghindari tanggung jawab, narasi negatif dan ketidakberdayaan, haus perhatian, cemas berlebihan, sikap manipulatif, dan minim empati.

Perilaku playing victim bisa dipicu oleh berbagai faktor, seperti trauma masa lalu, rasa kurang percaya diri, pengalaman pengkhianatan, atau kesulitan mengelola emosi negatif. Menghadapi seseorang yang melakukan playing victim dalam interaksi sehari-hari bisa melelahkan, tetapi penting untuk tetap bersikap empati. Memberikan dukungan dengan kadar yang wajar dan mengarahkan pembicaraan pada solusi masalah juga dapat membantu mengatasi perilaku ini. Jika diperlukan, sebaiknya dorong mereka untuk berkonsultasi dengan psikolog atau konselor untuk mendapatkan solusi dan bantuan lebih lanjut.

Source link