Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) telah mengkonfirmasi kemunculan La Nina di Samudra Pasifik sejak bulan September hingga Desember. Fenomena La Nina ini diperkirakan akan berlangsung selama satu hingga dua bulan ke depan oleh Badan Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional (NOAA). Namun, dampak dari La Nina yang terjadi saat ini masih sulit diprediksi karena termasuk dalam kategori yang lemah.
NASA Earth Observatory menjelaskan bahwa La Nina berkembang akibat angin pasat timur yang menguat sehingga menyebabkan naiknya air dingin dari kedalaman laut di Pasifik tropis timur. Hal ini menyebabkan pendaratan air hangat ke arah barat menuju Asia dan Australia. Melalui data dari satelit Sentinel-6 Michael Freilich, diperlihatkan penurunan tinggi muka laut di Pasifik tengah dan timur karena air dingin memiliki densitas lebih tinggi dibandingkan air hangat.
Meskipun biasanya La Nina membawa perubahan pola curah hujan global, namun intensitas yang lemah kali ini membuat prediksi cuaca menjadi sulit bagi para ahli. NOAA menyatakan bahwa ada peluang 68 persen untuk transisi menuju fase ENSO-netral pada periode Januari hingga Maret 2026 meskipun La Nina diprediksi akan bertahan dalam satu hingga dua bulan ke depan. Di Indonesia, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan La Nina akan berlangsung hingga awal tahun depan, meningkatkan potensi hujan tinggi hingga sangat tinggi di sebagian wilayah Indonesia.
Dengan adanya La Nina, Indonesia diproyeksikan akan mengalami hujan dengan intensitas tinggi terutama di wilayah bagian tengah dan timur. BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada namun tidak perlu panik, serta menjaga saluran air, kebersihan lingkungan, dan memantau informasi cuaca sebelum beraktivitas. Selain itu, La Nina juga akan berdampak pada curah hujan di wilayah Amerika Serikat, meskipun pola yang terkait dengan La Nina yang lemah bisa menjadi sulit diprediksi. Intensitas hujan di wilayah Amerika Barat Daya diperkirakan di bawah rata-rata sementara di wilayah Barat Laut diperkirakan di atas rata-rata. Meski begitu, tidak ada jaminan bahwa kondisi La Nina akan membawa musim dingin yang lebih kering di wilayah seperti Amerika Barat Daya.





