Kebakaran yang terjadi di Gedung Terra Drone di Cempaka Baru, Kemayoran, Jakarta Pusat telah menimbulkan dampak yang cukup tragis. Diduga kebakaran disebabkan oleh meledaknya baterai drone berjenis lithium-ion. Akibatnya, 22 orang dilaporkan meninggal dunia, dengan rincian tujuh laki-laki dan 15 perempuan. Jenazah korban langsung dibawa ke RS Polri Kramat Jati untuk proses identifikasi.
Terra Drone merupakan perusahaan teknologi drone dan Urban Air Mobility (UAM) yang menyediakan solusi survei dan inspeksi drone untuk berbagai industri. Di Indonesia, Terra Drone menyediakan jasa pemanfaatan drone untuk agrikultur atau pertanian, terutama dalam penyemprotan dan pemetaan lahan. Mereka menjelaskan bahwa terdapat dua jenis baterai yang biasa digunakan untuk drone agrikultur, yaitu Lithium Polymer (LiPo) dan Lithium-ion (Li-ion).
Baterai LiPo umumnya digunakan pada drone penyemprot karena dianggap ringan, bertenaga, dan mampu memberikan energi yang kuat. Namun, baterai LiPo juga dikenal sangat sensitif dan rentan mengalami pembengkakan atau bahkan meledak jika tidak ditangani dengan benar. Di sisi lain, baterai Li-ion lebih stabil dan tahan lama meski memiliki daya keluaran yang lebih rendah dibandingkan LiPo.
Meskipun dugaan awal menyebutkan kebakaran dipicu oleh ledakan baterai drone, penyebabnya masih perlu didalami lebih lanjut. Terra Drone menjelaskan beberapa faktor yang bisa menjadi pemicu baterai lithium pada drone meledak, seperti pengisian berlebihan, overheating, rusak fisik, dan penyimpanan yang buruk. Untuk mencegah insiden serupa, langkah-langkah mitigasi perlu diterapkan, termasuk penggunaan charger yang direkomendasikan, pengawasan saat pengisian daya, dan pemeriksaan rutin kondisi baterai.Ini penting untuk meminimalkan risiko kebakaran dan ledakan yang dapat terjadi akibat kerusakan baterai drone.





