Jumlah sesar aktif di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun, dengan total mencapai 401 sesar aktif yang tersebar di Tanah Air. Hal ini bukan disebabkan oleh Bumi yang semakin retak, namun lebih kepada kemajuan data dan penelitian yang semakin canggih. Menurut Guru Besar Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan ITB, Masyhur Irsyam, pemutakhiran peta bahaya gempa menggabungkan lebih dari 100.000 katalog gempa dari berbagai lembaga termasuk BMKG, USGS, dan BPPT, yang telah diperbarui hingga tahun 2024. Dengan pemutakhiran ini, banyak sesar yang sebelumnya belum terkonfirmasi kini diakui sebagai aktif dan dimasukkan ke dalam peta nasional.
Hasil pembaruan tersebut menunjukkan lonjakan jumlah sesar aktif dari 52 menjadi 401 dalam waktu 14 tahun. Penambahan ini terutama terlihat di Pulau Jawa dan Sumatra, di mana segmen sesar meningkat secara signifikan. Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia Tahun 2024 yang diterbitkan Kementerian Pekerjaan Umum juga mengungkapkan detail peningkatan jumlah sesar aktif di daerah-daerah lain seperti Nusa Tenggara-Banda, Sulawesi, Kalimantan, dan Maluku-Papua. Hal ini menegaskan bahwa Indonesia merupakan salah satu kawasan paling aktif secara tektonik di dunia.
Identifikasi struktur baru dan potensi gempa di wilayah-wilayah yang sebelumnya dianggap relatif stabil menjadi perhatian serius setelah temuan baru ini. Tim peneliti menegaskan bahwa peningkatan jumlah sesar aktif ini akan berdampak pada peningkatan nilai bahaya gempa di banyak wilayah, sehingga diperlukan penyempurnaan dalam berbagai standar konstruksi, termasuk SNI 1726 untuk bangunan tahan gempa. Secara keseluruhan, pemahaman yang lebih baik mengenai potensi gempa dan sesar aktif di Indonesia menjadi dasar bagi upaya pencegahan dan mitigasi risiko bencana di masa depan.





