Teknologi kecerdasan buatan (AI) tidak hanya digunakan untuk meningkatkan produktivitas, tetapi juga oleh penjahat siber sebagai sisi gelap teknologi ini. Pengembangan ransomware yang sebelumnya memakan waktu 9 hari, sekarang dapat diselesaikan hanya dalam waktu 15 menit. Adi Rusli, Country Manager Indonesia dari Palo Alto Networks, mengungkapkan bahwa penjahat siber sekarang hanya membutuhkan 3 jam untuk membuat ransomware, yang diproyeksikan akan menjadi 15 menit pada tahun 2026.
Tidak hanya itu, penjahat siber sekarang dapat menyusup ke sistem dan mencuri data dalam waktu satu hari, yang diproyeksikan akan menjadi hanya 20 menit pada tahun 2026. Selain itu, waktu yang diperlukan untuk mengeksploitasi kerentanan juga semakin singkat. Dulu, penjahat siber membutuhkan 9 minggu untuk melakukan eksploitasi, tetapi sekarang cukup satu hari, yang diproyeksikan akan menjadi kurang dari 60 menit.
Keberagaman serangan juga semakin meningkat dengan pemanfaatan AI. Sekarang, 70 persen dari insiden siber mengarah ke tiga atau lebih titik serangan. Adi mengingatkan bahwa AI membuka peluang besar bagi penjahat siber, dan oleh karena itu, strategi keamanan modern seperti Zero Trust sangat penting untuk menghadapi serangan siber yang semakin rumit.
Dalam konteks penggunaan AI, infrastruktur memainkan peran krusial. Persiapan infrastruktur harus didasarkan pada fondasi yang kuat, mulai dari sisi data, keamanan, hingga komputasi. Keberhasilan penerapan AI dalam bisnis tergantung pada kesiapan infrastruktur yang scalable dan fleksibel.
Indonesia, menurut Global AI Index 2024, menempati peringkat 49 dari 83 negara. Faktor kunci kelemahan adalah infrastruktur nasional, seperti daya komputasi, konektivitas, dan pusat data. Oleh karena itu, perusahaan di Indonesia perlu memahami dan menyiapkan infrastruktur IT yang tangguh guna memastikan adopsi AI berjalan dengan aman, efisien, dan produktif.





