Presiden Prabowo, sebagai perwakilan Indonesia dalam Sidang Majelis Umum PBB ke-80 di New York, menjadi momen penting setelah absen selama 10 tahun terakhir. Indonesia selama ini memiliki sejarah pemimpin yang berpidato di forum PBB untuk menyuarakan pandangan bangsa, mencerminkan arah politik luar negeri, dan posisi Indonesia di panggung internasional. Presiden Soekarno, sebagai presiden pertama RI, menjadi pemimpin Indonesia pertama yang berpidato di Sidang Umum PBB ke-15 pada 30 September 1960. Pidatonya, “To Build the World Anew”, memberi sorotan terhadap pertarungan geopolitik, rasa kemanusiaan, dan perjuangan anti-kolonialisme. Pidato tersebut dianggap sebagai orasi paling berpengaruh dalam sejarah politik internasional.
Seiring berjalannya waktu, presiden-presiden berikutnya seperti Soeharto, Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Jokowi, dan Prabowo juga memiliki capaian dalam berpidato di Sidang Umum PBB. Presiden Soeharto, pada Sidang Umum ke-47 PBB pada 24 September 1992, menyampaikan “Pesan Jakarta” menekankan pentingnya kerja sama global yang lebih adil. Sedangkan SBY, selama dua periode kepemimpinannya, hadir di Sidang Umum PBB sebanyak 6 kali dan membahas berbagai isu global seperti perdamaian, persatuan, dan lingkungan.
Presiden Jokowi, meskipun dalam masa kepemimpinannya banyak diwakili oleh pihak lain seperti Wakil Presiden atau Menteri Luar Negeri, tetap menghadirkan pidato pada Sidang Umum PBB secara virtual. Ia menyoroti isu-isu ketidaksetaraan global, pemulihan ekonomi, akses vaksin, dan kerja sama internasional untuk mengatasi krisis global. Sedangkan, Presiden Prabowo dijadwalkan akan berpidato langsung pada Sidang Majelis Umum PBB ke-80 pada 23 September 2025, menyoroti dukungan Indonesia terhadap rakyat Palestina.
Kehadiran presiden Indonesia dalam Sidang Umum PBB memiliki makna yang mendalam dan simbolis bagi diplomasi negara ini di panggung dunia. Podium PBB menjadi tempat untuk menyuarakan pesan politik Indonesia yang mencerminkan posisi dan pandangan bangsa ini terhadap isu global. Kehadiran presiden di forum internasional seperti PBB tidak hanya sebagai wadah untuk berbicara, tetapi juga sebagai strategi politik luar negeri untuk memperkuat kehadiran dan pengaruh Indonesia di dunia.





