Majelis Taklim Ambruk saat Acara Maulid Nabi di Bogor: Bupati dan Warga Berduka

by -162 Views

BOGOR — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Desa Sukamakmur, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor, pada Minggu pagi, 7 September 2025, mendadak berubah menjadi kepanikan besar. Bangunan Majelis Taklim Asohibiyah roboh saat dipadati jamaah, membuat suasana yang semula khidmat berganti duka dalam hitungan detik.

Ribuan Detik yang Mengubah Acara Jadi Tragedi

Peristiwa itu terjadi ketika sekitar 150 orang, sebagian besar ibu-ibu, sedang mengikuti kegiatan keagamaan di dalam bangunan. Tiba-tiba, konstruksi majelis taklim tak lagi mampu menahan beban. Runtuhnya bangunan memicu kepanikan warga yang berada di lokasi, sementara sejumlah jamaah terjebak di bawah material bangunan.

Berdasarkan data sementara dari pemerintah daerah dan BPBD Kabupaten Bogor, lebih dari 80 orang menjadi korban dalam insiden tersebut. Tiga orang dilaporkan meninggal dunia, sementara puluhan lainnya mengalami luka-luka dengan kondisi yang bervariasi.

Bangunan Diduga Tak Kuat Menahan Beban

Bupati Bogor Rudy Susmanto menyebut majelis taklim itu berada di area pinggiran tebing, sehingga kondisi struktur bangunan diduga ikut memengaruhi robohnya bangunan. Menurut dia, kapasitas tempat tersebut tampaknya sudah terlampaui saat acara berlangsung.

Rudy menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban dan meminta warga tetap tegar menghadapi musibah ini. Ia juga menegaskan bahwa proses pendataan belum sepenuhnya selesai karena jumlah korban masih berpotensi berubah seiring verifikasi di lapangan.

Pendataan Korban Masih Berlangsung

BPBD Kabupaten Bogor memastikan tiga korban meninggal dunia akibat insiden tersebut. Sementara itu, para korban luka telah mendapatkan penanganan awal. Pemerintah daerah kini terus berkoordinasi untuk memastikan seluruh nama dan kondisi korban tercatat dengan benar.

Tragedi di Majelis Taklim Asohibiyah menjadi salah satu bencana non-alam terbesar di Kabupaten Bogor sepanjang 2025, bukan hanya karena jumlah korban yang banyak, tetapi juga karena terjadi di tengah kegiatan ibadah yang seharusnya menjadi momen penuh ketenangan. Hingga kini, perhatian warga masih tertuju pada proses penanganan korban dan upaya memastikan kejadian serupa tidak terulang.