Kritik Kapolri dan DPR Pasca Demo Berdarah
Kericuhan di depan gedung DPR masih menyisakan luka, bukan hanya karena suasana politik yang memanas, tetapi juga karena jatuhnya korban jiwa. Nama Affan Kurniawan, pengemudi ojek online yang tewas dalam insiden itu, terus menjadi pusat perhatian publik. Di tengah derasnya kecaman, langkah Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo yang mendatangi korban justru mencuri perhatian dan dinilai sebagai gestur yang menunjukkan empati di saat situasi sedang paling sensitif.
Kapolri Dinilai Tunjukkan Respons yang Cepat
Pengamat politik Fernando Emas menilai tindakan Kapolri turun langsung menemui korban aksi sebagai bentuk kepemimpinan yang tidak menjauh dari persoalan di lapangan. Menurut dia, langkah seperti itu penting untuk meredam amarah publik sekaligus menjaga kepercayaan masyarakat ketika sebuah demonstrasi berubah menjadi bentrokan dan menelan korban.
Fernando juga menyoroti respons cepat kepolisian terhadap anggota Brimob yang diduga terlibat dalam insiden penabrakan driver ojol tersebut. Ia menilai, penanganan yang tegas memberi sinyal bahwa peristiwa itu tidak akan dibiarkan berlalu begitu saja tanpa proses yang jelas.
DPR Disorot Soal Empati kepada Massa
Di sisi lain, Fernando menilai sikap anggota DPR juga patut diuji dalam situasi seperti ini. Menurutnya, wakil rakyat tidak cukup hanya hadir sebagai simbol lembaga, tetapi harus memperlihatkan keberanian mendengar dan merespons keresahan warga yang datang menyuarakan protes ke gedung parlemen.
Ia menegaskan bahwa empati bukan hanya beban aparat kepolisian. Bagi anggota DPR, kemampuan memahami kemarahan publik justru menjadi bagian penting dari tanggung jawab politik. Tanpa sikap itu, jarak antara rakyat dan lembaga negara dikhawatirkan makin melebar, terutama saat tensi sosial sedang tinggi.
Kasus Affan Kurniawan Masih Menjadi Tuntutan Publik
Kematian Affan Kurniawan terus memicu sorotan luas setelah ia tewas tertabrak dan terlindas mobil Brimob saat demonstrasi di DPR berlangsung. Peristiwa tersebut memantik gelombang kecaman dan mendorong desakan agar penyelidikan dilakukan secara terbuka, tanpa menutup-nutupi proses yang sedang berjalan.
Hingga kini, tujuh anggota Brimob masih menjalani pemeriksaan intensif, yakni Kompol C, Aibda M, Bripka R, Briptu D, Bribda M, Baraka Y, dan Baraka D. Di luar proses internal kepolisian, organisasi pengemudi ojek online juga terus menuntut transparansi penuh agar kasus ini tidak berhenti pada pemeriksaan administratif semata, melainkan benar-benar memberi jawaban bagi keluarga korban dan publik.
Sumber: keterangan pengamat politik Fernando Emas dan informasi perkembangan penanganan kasus oleh kepolisian.





