Mayoritas Kru Ferrari Menolak Kehadiran Hamilton
Kedatangan Lewis Hamilton ke Ferrari semula dipandang sebagai salah satu transfer paling besar dalam sejarah Formula 1 modern. Enam gelar juara dunia, reputasi global, dan mimpi lama untuk membela tim asal Maranello membuat langkah ini terlihat seperti awal kisah besar. Namun, kenyataan di lintasan justru bergerak ke arah yang jauh lebih rumit. Hamilton belum juga merasakan podium di balapan utama bersama Ferrari, sementara posisinya di klasemen sementara bahkan masih tercecer di urutan keenam.
Awal yang Jauh dari Ekspektasi
Tekanan terhadap Hamilton kian terasa setelah GP Hungaria. Ia tampil di bawah performa dan hanya mampu finis ke-12, sedangkan Charles Leclerc justru merebut pole position. Hasil itu mempertegas kontras di dalam garasi Ferrari: satu sisi menunjukkan potensi, sisi lain masih mencari bentuk terbaik. Seusai balapan, Hamilton tidak menutupi kekecewaannya. Ucapannya yang menyebut dirinya “tidak berguna” dan menyarankan Ferrari mencari pengganti menjadi sinyal betapa berat beban yang ia tanggung di musim pertamanya bersama tim merah.
Komentar Tajam dari Aldo Merzario
Situasi Hamilton ikut memancing komentar keras dari Aldo Merzario, mantan pembalap Ferrari pada era 1972-1973. Kepada media, Merzario menilai perekrutan Hamilton lebih dekat ke kepentingan komersial ketimbang keputusan murni berdasarkan kebutuhan olahraga. Ia bahkan menyebut sekitar 90 persen staf Ferrari tidak setuju dengan kedatangan Hamilton.
Menurut Merzario, seorang pembalap sulit tampil maksimal jika tidak merasa benar-benar diterima oleh lingkungan tim. Dalam pandangannya, rasa keterhubungan dengan kru sama pentingnya dengan kecepatan mobil di lintasan.
“Apa Gunanya Menang Jika Tetap Ketiga?”
Merzario juga melontarkan pertanyaan yang menohok soal makna kemenangan. “Apa gunanya menang dengan selisih 0,3-0,4 detik tapi tetap finis ketiga?” ujarnya, menyinggung situasi ketika performa bagus belum tentu berbuah hasil yang benar-benar mengubah posisi di klasemen. Bagi Merzario, angka di stopwatch tidak selalu cukup jika hasil akhir tetap jauh dari target utama.
Ferrari Dihadapkan pada Tekanan Ganda
Meski kritiknya tajam, Merzario tidak sepenuhnya menutup peluang Hamilton untuk bangkit. Ia masih percaya Hamilton punya kualitas untuk kembali ke level terbaik, asalkan berada di lingkungan yang tepat dan mendapat dukungan penuh. Di saat yang sama, ia menilai Charles Leclerc juga masih harus membuktikan dirinya sebagai juara sejati.
Ferrari pun kini berada di titik yang sensitif. Tim harus menjaga keseimbangan antara ekspektasi besar terhadap Hamilton dan posisi Leclerc sebagai wajah proyek jangka panjang. Di tengah sorotan publik, hasil di lintasan bukan lagi sekadar soal poin, melainkan juga soal siapa yang benar-benar dipercaya sebagai fondasi masa depan tim.





