Potensi Perbedaan Awal Ramadan 2025: BRIN Berikan Penjelasan
Awal Ramadan 2025 belum sepenuhnya pasti. Meski perhitungan astronomi sudah memberi gambaran kuat, kepastian resmi tetap berada di tangan pemerintah melalui sidang isbat Kementerian Agama RI yang dijadwalkan berlangsung pada Jumat, 28 Februari 2025. Di tahap inilah kemungkinan perbedaan awal puasa kembali muncul, karena hasil rukyat hilal belum tentu sejalan dengan hitungan hisab.
BRIN: Hisab Sudah Mengarah, Tapi Rukyat Tetap Menentukan
Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjelaskan bahwa penetapan awal Ramadan 1446 Hijriah masih bergantung pada dua hal: pengamatan hilal dan keputusan resmi pemerintah. Dari sisi astronomi, posisi bulan pada saat penentuan awal Ramadan dinilai sudah mendekati, bahkan di sejumlah wilayah memenuhi, kriteria yang digunakan negara-negara anggota MABIMS.
Namun, BRIN menegaskan bahwa hasil rukyat tetap menjadi penentu akhir. Artinya, sekalipun posisi bulan secara hitungan sudah melewati batas minimal, kondisi di lapangan belum tentu mendukung hilal terlihat. Situasi inilah yang membuat peluang perbedaan tanggal mulai puasa masih terbuka.
Kriteria MABIMS Memungkinkan 1 Maret 2025
Sejak 2021, Indonesia bersama negara-negara MABIMS menggunakan acuan tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat. Dalam analisis terbaru, posisi bulan di Banda Aceh disebut sudah memenuhi kriteria tersebut. Karena itu, awal Ramadan berpeluang ditetapkan jatuh pada 1 Maret 2025.
Meski begitu, BRIN mengingatkan bahwa kesesuaian angka dalam perhitungan belum otomatis menjamin keseragaman penetapan. Cuaca, visibilitas langit, dan keberhasilan pengamatan di titik rukyat akan sangat menentukan. Jika hilal tidak berhasil diamati, maka penetapan awal Ramadan bisa bergeser menjadi 2 Maret 2025.
Sidang Isbat Jadi Titik Akhir Kepastian
Kementerian Agama RI akan menggelar sidang isbat pada Jumat, 28 Februari 2025, untuk menetapkan awal puasa secara resmi. Forum ini akan memadukan data hisab dan laporan rukyat sebelum hasilnya diumumkan kepada publik. Karena itu, umat Islam di Indonesia masih harus menunggu keputusan pemerintah sebelum memulai ibadah Ramadan.
Di tengah kemungkinan adanya perbedaan, perhatian kini tertuju pada hasil sidang isbat dan laporan pemantauan hilal dari berbagai lokasi. Dari situlah akan diketahui apakah 1 Ramadan 1446 H dimulai pada 1 Maret 2025 atau bergeser ke 2 Maret 2025, sebagaimana diperkirakan dalam analisis BRIN.
Bagi jutaan umat Muslim, keputusan ini bukan sekadar soal kalender. Ia menjadi penanda dimulainya ibadah tahunan yang dinanti, sekaligus momen ketika sains, rukyat, dan kebijakan negara kembali bertemu dalam satu keputusan yang sama pentingnya.





