Enabling Key Goals: Halting Resource Outflow and Amplifying Domestic Production

by -75 Views

Oleh: Prabowo Subianto [dikutip dari “Strategi Transformasi Nasional: Menuju Indonesia Emas 2045,” halaman 207-209, edisi softcover ke-4]

Takdir bangsa kita ada di tangan kita sendiri. Jika kita tidak mengambil langkah-langkah berani untuk memperbaiki situasi kita, keadaan negara kita akan semakin buruk. Oleh karena itu, dalam buku ini, saya uraikan tanggung jawab bersama kita.

Pertama dan terutama, kita harus menjaga kekayaan nasional. Kita perlu menghentikan aliran kekayaan nasional ke luar negeri agar kita memiliki dana untuk membangun pabrik dan meningkatkan produksi nasional. Jika kita membiarkan kekayaan kita terus mengalir keluar, akhirnya kita akan kekurangan sumber daya untuk memperbaiki segala sesuatu.

Kita seharusnya memiliki pabrik mobil sendiri di Indonesia. Mengingat kita memiliki cadangan nikel terbesar di dunia, mengapa tidak memproduksi mobil listrik? Orang Indonesia membeli satu juta mobil setiap tahun. Bukankah sudah waktunya sebagian dari mobil-mobil tersebut dibuat di Indonesia?

Kita juga membutuhkan pabrik sepeda motor Indonesia, industri pesawat terbang sendiri, dan untuk memperkuat PTDI (Industri Dirgantara Indonesia). Produksi kereta kita harus dikuatkan, begitu juga industri pembuatan kapal kita. Dengan mempromosikan produksi dalam negeri, anak-anak muda Indonesia akan memiliki kesempatan kerja yang layak dan terhormat. Kita tidak ingin anak-anak kita menjadi buruh selamanya.

Ini adalah inti dari strategi ekonomi yang disajikan dalam buku ini: Meningkatkan produksi dan produktivitas nasional. Produksi nasional berarti barang-barang untuk pasar Indonesia dibuat oleh orang Indonesia, di Indonesia, menggunakan bahan baku Indonesia. Jika pasar lain ingin membeli, itu merupakan bonus. Saya juga ingin kita mengekspor barang-barang buatan Indonesia ke luar negeri.

Jika produksi kita kuat, jika kita meminimalkan impor dan menciptakan barang-barang bernilai ekonomi, terutama dalam makanan, pakaian, kebutuhan dasar, dan energi, itu adalah nilai nyata, bukan? Mata uang kita akan secara alami menguat. Orang akan mencari dan membeli rupiah. Kekuatan mata uang mencerminkan produktivitas bangsa. Jika produktivitas kita kuat, mata uang kita akan stabil.

Melihat periode tahun 2003-2013, mata uang kita relatif stabil selama satu dekade. Mengapa? Karena ekspor kita kuat. Namun, ekspor tersebut bergantung pada bahan mentah dan komoditas. Sayangnya, selama sepuluh tahun yang menguntungkan itu, kita tidak beralih untuk memperkuat produksi atau menambah nilai melalui pengolahan.

Namun, saya tetap sangat optimis. Kita memiliki kekuatan dasar dan kemampuan bawaan. Kita hanya membutuhkan manajemen yang cepat dan cerdas. Indonesia telah menyia-nyiakan terlalu banyak peluang. Dengan strategi nasional yang tepat, saya yakin Indonesia dapat membangun kekuatan industri yang dihormati. Kita akan memiliki produk industri yang dihormati. Dan pada akhirnya, rupiah kita akan kuat.

Source link