Jakarta — Menjelang Pemilu Presiden 2024, perdebatan politik tak hanya ramai di panggung kampanye, tetapi juga di ruang publik yang dipenuhi potongan video dan narasi yang saling berlawanan. Di tengah situasi itu, Wakil Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Yandri Susanto meminta masyarakat tidak langsung terseret oleh cuplikan pernyataan Menteri Perdagangan sekaligus Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan, yang beredar luas di media sosial.
Yandri menilai, video yang dipotong dan diberi bingkai tertentu telah memunculkan kesan seolah-olah Zulkifli Hasan menjadikan salat sebagai bahan candaan. Menurut dia, cara membaca pernyataan seperti itu justru berbahaya karena bisa memantik salah paham dan memperlebar jarak di tengah masyarakat yang sedang berbeda pilihan politik.
Yandri Ingatkan Politik Jangan Merusak Persaudaraan
Yandri menegaskan, pemilu adalah kontestasi yang datang setiap lima tahun dan tidak seharusnya mengubah hubungan sosial warga. Ia mengingatkan agar perbedaan dukungan tidak berkembang menjadi keretakan di tengah masyarakat.
“Bang Zul mengingatkan kita semua jangan sampai karena perbedaan pilihan dalam pemilu, lalu memunculkan keretakan di masyarakat,” ujarnya, dikutip Rabu, 20 Desember 2023.
Ia juga menolak anggapan bahwa Zulkifli Hasan melakukan penistaan agama. Menurut Yandri, tuduhan itu tidak sejalan dengan rekam jejak Ketua Umum PAN tersebut yang selama ini, kata dia, tidak menunjukkan arah seperti yang dituduhkan kepadanya.
Makna Pernyataan yang Dipersoalkan
Lebih jauh, Yandri menjelaskan bahwa pesan yang ingin disampaikan Zulkifli Hasan bukanlah untuk merendahkan ibadah, melainkan mengingatkan agar fanatisme politik tidak membuat seseorang mengubah tata cara salatnya. Ia menyebut contoh yang dipakai sengaja dibuat sederhana supaya mudah dipahami oleh masyarakat luas.
Menurut dia, gejala pembelahan akibat pilihan politik sebenarnya mulai terlihat, meski belum sampai pada tahap yang besar. Karena itu, ia menilai peringatan sejak dini penting agar suasana politik tidak berubah menjadi polarisasi yang tajam dan sulit dikendalikan.
Tabayun, Husnuzon, dan Bahaya Politik Identitas
Yandri juga menyinggung bahwa pernyataan serupa, menurut dia, pernah disampaikan tokoh lain seperti Anies Baswedan dan Ustad Abdul Somad tanpa menimbulkan framing negatif. Dari situ, ia melihat adanya standar berbeda ketika sebuah pernyataan dibaca dalam suasana politik yang panas.
Ia memperingatkan agar praktik politik identitas tidak kembali menguat, terutama jika ekspresi keagamaan mulai ditarik ke dalam pertarungan pasangan calon. “Jangan sampai terulang, karena Pemilu kemudian muncul praktik politik identitas. Hasilnya sangat berbahaya bagi persatuan dan kesatuan bangsa,” ucapnya.
Karena itu, Yandri meminta publik mengedepankan tabayun dan husnuzon dalam menyikapi informasi yang beredar selama Pemilu 2024. Ia berharap ruang politik tetap dijaga dengan sikap santun, tanpa memberi tempat bagi kabar bohong yang hanya memperkeruh keadaan.
Sumber: pernyataan Wakil Ketua Umum PAN Yandri Susanto yang dikutip pada Rabu, 20 Desember 2023.





