JAKARTA – Prabowo Subianto kembali menyoroti satu hal yang, menurutnya, sering diabaikan banyak orang menjelang Pilpres 2024: politik bukan urusan segelintir elite. Dalam deklarasi dukungan Pandawa Lima untuk pasangan Prabowo-Gibran di Djakarta Theater, Jakarta, Jumat, 1 Desember 2023, ia menegaskan bahwa masa depan Indonesia ikut ditentukan oleh keberanian warga untuk terlibat, bukan sekadar menjadi penonton.
Politik, menurut Prabowo, bukan ruang yang boleh ditinggalkan
Di hadapan para pendukungnya, Prabowo menyampaikan bahwa politik pada dasarnya adalah alat untuk memperbaiki kehidupan rakyat. Ia menyebut pandangan itu selaras dengan yang diajarkan dalam buku-buku ilmu politik di berbagai kampus dunia. Karena itu, menurut dia, menjauh dari politik bukan sikap netral, melainkan bentuk pelepasan tanggung jawab terhadap arah bangsa.
“Kita semua sebagai anak bangsa, sebagai warga negara, kita punya tanggung jawab atas masa depan bangsa kita sendiri,” kata Prabowo. Ia menekankan bahwa tanggung jawab itu tidak berhenti pada pilihan saat pemilu, tetapi harus hadir dalam keterlibatan aktif dalam kehidupan politik nasional.
Tak ikut politik, tapi ingin ikut mengeluh
Prabowo juga mengkritik mereka yang memilih tidak peduli pada politik, namun tetap keras bersuara saat keadaan memburuk. Menurutnya, sikap seperti itu tidak konsisten. Ia menilai, jika seseorang menolak terlibat dalam urusan politik, maka ia juga tidak layak mengeluh ketika masa depan anak dan cucunya tidak berjalan baik.
“Kalau tidak mau terlibat politik, berarti jangan mengeluh dan jangan marah dan jangan protes dan jangan menggugat kalau anak-anak kita dan cucu-cucu kita hidupnya tidak baik,” ujarnya.
Korupsi, harga pangan, hingga banjir ikut disorot
Dalam pernyataannya, Prabowo memperluas persoalan yang ia kaitkan dengan pilihan politik. Ia menyinggung sulitnya mencari pekerjaan, harga pangan yang tinggi, listrik yang padam, banjir, kekeringan di desa, hingga korupsi yang terus menjadi keluhan publik. Semua itu, menurut dia, tidak bisa dilepaskan dari arah politik yang dipilih sebuah bangsa.
“Jangan marah kalau nanti listrik mati-mati, jangan marah kalau harga pangan menjulang tinggi. Jangan marah kalau banyak korupsi. Jangan marah kalau macet di jalan, jangan marah kalau kebanjiran, jangan marah kalau di desa-desa kita banyak yang kekeringan. Karena saudara tidak mau terlibat politik,” kata Prabowo.
Pernyataan tersebut memperlihatkan cara Prabowo membaca politik sebagai urusan sehari-hari yang langsung bersentuhan dengan hidup masyarakat. Bagi dia, keputusan politik bukan sekadar soal perebutan kekuasaan, melainkan menentukan apakah problem dasar rakyat akan terus berulang atau mulai dibenahi bersama.





